Sejumlah Guru Berseteru

‘’Terkait Penentuan Kelulusan Siswa MA Al-Amin NW Sepit’’

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Untuk pertama kali terjadi di Madrasah Aliyah Al-Amin NW Sepit, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, diwarnai perseteruan hebat antar sesama dewan guru dalam menentukan kelulusan siswa tamat.

Pasalnya, semenjak Mendikbud RI, Anies Baswedan, mengeluarkan kebijakan bahwa UN tidak menjadi syarat mutlak dalam menentukan siswa lulus atau tidak, menjadikan sekolah ini menggunakan hak prerogatifnya dalam menentukan kelayakan siswa lulus atau tidak.

Tak ayal seperti fenomena yang kini mewarnai perseteruan antar guru di MA Al-Amin NW Sepit, Kecamatan Keruak, Lotim, yang hingga kini kurang dari dua hari menjelang tanggal pengumuman kelulusan siswa tingkat SMA/sederajat yang dijadualkan pada 15 Mei 2015 mendatang, sejumlah guru di madrasah ini belum ada kesepakatan.

Kepala MA Al-Amin NW Sepit, Ustz Hasan Mazini kepada Lomboktoday.co.id, Rabu (13/5), mengaku dan membenarkan situasi ketegangan antar anak buahnya soal penentuan kelulusan anak didiknya.

Menurutnya, dari sebanyak 27 orang guru di MA naungan Ponpes Al-Amin NW Sepit ini, terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu termasuk kepala madrasahnya, menyepakati bahwa dari sebanyak 41 siswa yang akan tamat, dinilainya layak lulus semua jika dilihat dari skor hasil ujian berdasarkan rekaf nilai oleh Wakamad Bidang Kurikulum. Tapi, sekitar 20 persen guru masih belum menyetujui lulus 100 persen.

Ironisnya, kubu yang kontra dan menolak lulus 100 persen justeru berawal dari Wakamad Bidang Kurikulum selaku pihak yang melakukan rekafitulasi nilai hasil ujian dan menyatakan lulus semua dari segi nilai akademik.

‘’Wakamad tersebut menilai ada sekitar dua orang siswanya tidak layak untuk diluluskan, karena yang bersangkutan jatuh nilainya dari sebagian guru terkait penilaian sisi prilaku,’’ kata Kepada MA Al-Amin NW Sepit, Hasan Mazini.

Hasan Mazini menambahkan, persoalan ini pernah dirapatkan pekan lalu, namun melalui rapat tersebut gagal mencapai kesepatan dan rapat diwarnai aksi protes dan saling tegang antara yang pro lulus 100 persen dengan yang kontra, hingga persoalan ini sempat ditengahi oleh pihak Pengurus Yayasan Ponpes Al-Amin NW Sepit selaku lembaga yang menaungi madrasah. Meskipun pihak yayasan menengahi konflik ini, namun juga gagal mencapai kesepakatan.

Salah seorang guru yang kontra, yang tak mau sebut identitasnya mengatakan, persoalan ini bukan ranah pengurus Yayasan untuk intervensi, karena yang paling tahu kondisi akademik dan prilaku idividu siswa adalah para dewan guru.

‘’Sikap kami tidak bermaksud untuk menghukum dan menjerumuskan siswa, namun sebagai pembelajaran bagi siswa yang bersangkutan maupun bagi siswa-siswi lain di bawah kelasnya, bahwa meskipun kebijakan pemerintah sudah lunak dalam menentukan kelulusan, tapi kami ingin menunjukkan bahwa sekolah/madrasah kami tidak main-main dalam menentukan kelulusan dan ini menyangkut nyali madrasah kita kedepannya, sehingga madrasah tidak dianggap tempat yang paling enteng,’’ cetus seorang guru lainnya yang kontra.

Kini, pihak Yayasan dan kepala madrasah akan melakukan lobi-lobi kepada beberapa rekan guru yang masih bertahan. Dan pendekatan akan dilakukan menjelang detik-detik terakhir akan dikeluarkannya pengumuman.(Kml)

Leave a Reply

Your email address will not be published.