Suplay BBM Minim, Tangkapan Ikan Menurun

NELAYAN: Inilah para Nelayan Tanjung Luar yang merasa kekurangan pasokan BBM. (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)
NELAYAN: Inilah para Nelayan Tanjung Luar yang merasa kekurangan pasokan BBM. (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)
NELAYAN: Inilah para Nelayan Tanjung Luar yang merasa kekurangan pasokan BBM. (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Para nelayan di Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, mengeluhkan minimnya pasokan bahan bakar minyak (BBM), baik Premium maupun Solar. Akibatnya, sejumlah nelayan di desa itu, tidak bisa maksimal melakukan penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapan menjadi sangat minim.

Dari penelusuran Lomboktoday.co.id pada Rabu (20/5) kepada beberapa nelayan di Dermaga TPI Tanjung Luar menyebutkan, semua ini disebabkan terbatasnya suplay BBM (Premium dan Solar) yang ada di SPBU nelayan yang ada di Dermaga Tanjung Luar.

‘’Kami tidak berani berlayar untuk mencari lokasi tangkapan ikan dengan radius yang jauh, dan tidak berani terlalu lama berada di tengah laut, takut tak keucukupan BBM untuk perahu motor kami, karena stok BBM yang ada sangat terbatas,’’ kata para nelayan kepada Lomboktoday.co.id di Dermaga TPI Tanjung Luar, Lotim, Rabu (20/5).

Menurutnya, jatah pembelian BBM di SPBU nelayan yang ada ini dibatasi, sehingga tidak berkecukupan untuk cadangan BBM selama satu malam berada di tengah laut. Akibatnya, para nelayan tidak bisa maksimal melakukan penangkapan.

‘’Belum terlalu jauh dan belum sampai tengah malam kami di tengah laut, harus keburu kembali ke darat takut BBM habis di tengah laut,’’ ungkapnya lagi.

Para nelayan mengeluhkan pula pelayanan dalam pembelian BBM di SPBU nelayan ini. Pasalnya, menurut para nelayan, pihak SPBU tidak hanya melayani para nelayan di perairan wilayah Selatan ini saja, melainkan juga melayani para nelayan dari wilayah luar. Sehingga, cadangan BBM di SPBU ini tak mampu memenuhi kebutahan nelayan wilayah Selatan.

Seperti diketahui, jumlah nelayan yang turun melaut di perairan dua desa ini (Desa Tanjung Luar dan Desa Maringkik), terbanyak di Lombok Timur dibanding volume nelayan di desa-desa pesisir lain ke wilayah Utara Lombok Timur.

Kepala Desa Tanjung Luar, Fahruddin Ali yang dikonfirmasi Lomboktoday.co.id terkait keluhan para nelayan membenarkan apa yang menjadi keluhan rakyatnya itu.

‘’Memang betul, rakyat kami seringkali mengeluhkan terbatasnya jatah pembelian BBM di SPBU nelayan yang ada di Dermaga Nelayan Tanjung Luar setiap kali akan turun melaut,’’ katanya.

Kades yang sering disafa Abah Ali itu mengatakan, untuk setiap kali melaut dalam setiap malam para nelayan ukuran satu perahu motor biasanya nelayan membawa minimal 100 liter BBM (Premium atau Solar) baru nelayan berani maksimal melakukan penangkapan ikan. Tapi, karena dibatasinya jatah pembelian BBM, maka nelayan tak berani terlalu jauh dan terlalu lama di tengah laut.

Menurut Abah Ali, dari kondisi ini sangat mengganggu perekonomian rakyat Tanjung Luar, karena volume hasil tangkapan ikan sangat minim dan tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari jika dibanding sebelumnyanya. Hasil tangkapan semalam, bisa memenuhi kebutuhan hidup 3-4 hari bahkan masih bisa ada yang ditabung.

Untuk itu, kades meminta kepada pemerintah untuk segera menyikapi persoalan ini sebelum rakyatnya terlanjur menderita. ‘’Kami mohon pemerintah agar cepat tanggap dan segera mencari solusi terbaik untuk mengatasi kondisi ini sebelum rakyat kami jatuh miskin,’’ harapnya.(Kml)

Leave a Reply

Your email address will not be published.