Warga Pringgasela vs Jamaah As-Sunnah Bentrok

NEGOSIASI: Kapolres Lotim, AKBP Heri Prihanto sedang bernegosiasi dengan massa agar segera membubarkan diri dan tidak melakukan penyerangan terhadap tempat pembangunan Masjid Jamaah As-Sunnah. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)
NEGOSIASI: Kapolres Lotim, AKBP Heri Prihanto sedang bernegosiasi dengan massa agar segera membubarkan diri dan tidak melakukan penyerangan terhadap tempat pembangunan Masjid Jamaah As-Sunnah. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)
NEGOSIASI: Kapolres Lotim, AKBP Heri Prihanto sedang bernegosiasi dengan massa agar segera membubarkan diri dan tidak melakukan penyerangan terhadap tempat pembangunan Masjid Jamaah As-Sunnah. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Konflik yang terjadi antara warga Pringgasela dengan Jamaah As-Sunnah terus berlanjut. Setidaknya terjadi bentrok diantara keduanya di lokasi pembangunan Masjid As-Sunnah dan pendidikan, di Dusun Gubuk Barat, Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgesela, Lombok Timur, pada Rabu malam (19/8), sekitar pukul 20.00 Wita.

Dalam bentrok itu, telah menyebabkan korban berjatuhan diantara warga Pringgasela dan Jamaah As-Sunnah, akibat terkena lemparan batu dan benda tumpul. Para korban pun, baik dari pihak warga Pringgasela maupun Jamaah As-Sunnah, langsung dilarikan ke Puskesmas Pringgasela, bahkan ada yang sampai dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soejono Selong.

Beruntungnya aksi yang dilakukan warga tidak berlangsung lama, karena cepat dipukul mundur oleh pasukan dari pihak Polres Lotim, yang meminta agar warga segera membubarkan diri.

Informasi yang dihimpun Lomboktoday.co.id menyebutkan, kasus penyerangan yang dilakukan warga Pringgasela ke lokasi pembangunan Masjid As-Sunnah itu, bermula dari kemarahan warga atas sikap Jamaah As-Sunnah yang tidak mentaati kesepakatan bersama yang telah dihasilkan dalam pertemuan di Bakesbangpoldagri Lotim. Salah satunya yakni; untuk tidak melakukan aktivitas atau melanjutkan kegiatan pembangunan Masjid As-Sunnah dan pendidikan. Tapi kenyataan di lapangan, justeru Jamaah As-Sunnah melanjutkan kegiatan pembangunan tersebut. Sehingga, hal inilah yang tidak diterima oleh warga Pringgasela.

Kemudian tanpa dikomando oleh siapapun, ratusan warga Pringgasela bergerak menuju lokasi pembangunan tersebut, sambil berteriak agar pembangunan itu harus diratakan. Sedangkan di lokasi pembangunan, terdapat Jamaah As-Sunnah yang berjumlah belasan orang.

Begitu massa dari warga datang ke lokasi pembangunan tersebut, akhirnya kedua belah pihak langsung terjadi insiden saling serang dan lempar menggunakan batu.

Akibatnya, sekitar lima orang Jamaah As-Sunnah mengalami menjadi korban lemparan batu. Bahkan dua diantara mereka mengalami luka serius di kepalanya, sehingga terpaksa dilarikan ke Puskesmas. Sedangkan dari kubu warga yang mengalami luka sebanyak dua orang.

Saat terjadinya aksi saling serang itu, kemudian baru datang petugas untuk meminta mundur warga yang melakukan penyerangan tersebut. Bahkan petugas mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap warga bila tidak mengindahkan imbauan yang diberikan petugas.

Warga pun akhirnya memilih mundur dan melakukan konsentrasi di simpang tiga pintu masuk ke lokasi pembangunan Masjid As-Sunnah tersebut. Yakni dengan memblokade pasukan Dalmas yang membawa tameng dan senjata lengkap.

‘’Pokoknya kami menginginkan agar bangunan itu diratakan. Karena, itu biang masalah, apalagi dengan adanya kesepakatan, tapi tidak diindahkan oleh Jamaah As-Sunnah,’’ teriak warga di hadapan petugas.

Sementara itu, di tengah kerumunan massa itu, Kapolres Lombok Timur, AKBP Heri Prihanto bersama Kapolsek Pringgasela, IPTU Junaidi Ishak, Camat Pringgasela, Hanudin mencoba untuk melakukan negoisasi dengan warga, agar tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. Karena, siapa yang bersalah, tentu harus ditindaktegas sesuai aturan yang ada.

‘’Kami minta agar warga membubarkan diri, karena kalau terus melakukan aksi anarkis, tentu kami akan mengambil tindakan tegas. Kami minta kepada camat untuk segera berkoordinasi dengan Bakesbangpoldagri Lotim untuk melakukan pertemuan,’’ kata Kapolres Lotim, AKBP Heri Prihanto.

Heri meminta kepada masyarakat untuk meredam diri dan tidak cepat terpancing. Bila perlu hendaknya mencari solusi penyelesaian masalah ini secara musyawarah. Karena, tugasnya adalah hanya mengamankan saja agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum. ‘’Mari kita dudukkan permasalahan ini pada tempatnya, dan menyelesaikan secara dingin, bukan dengan emosi,’’ ungkapnya.

Di tempat yang sama, Camat Pringgasela, Hanudin mengatakan, penyebab terjadinya masalah ini karena adanya Jamaah As-Sunnah yang melakukan kegiatan di lokasi pembangunan masjid tersebut. Meski telah ada keputusan bersama agar As-Sunnah menghentikan segala bentuk kegiatan sebelum keluar ijin resmi.

‘’Dalam pertemuan itu, sudah disepakati untuk menghentikan kegiatan, tapi justeru dilanggar oleh Jamaah As-Sunnah. Sehingga inilah yang membuat masyarakat menjadi marah,’’ kata Hanudin.

Kalangan tokoh pemuda juga sangat menyayangkan tidak tegasnya Pemkab Lotim dalam permasalahan ini. Karena yang terjadi adalah pembiaran di balik masalah ini, yang menyebabkan terjadinya konflik.

‘’Bakesbangpoldagri selaku pihak dari Pemda harus bersikap tegas, dan tidak melakukan pembiaran terhadap masalah ini. Apalagi telah adanya kesepakatan sebelumnya. Apabila dalam tiga hari tidak ada keputusan, maka jangan salahkan warga akan bergerak,’’ cetus tokoh pemuda yang enggan namanya dipublikasikan.

Setelah dilakukan mediasi antara kapolres dengan warga, akhirnya warga pun langsung membubarkan diri. Tapi, lokasi pembangunan tetap dijaga oleh aparat kepolisian dan Satpol PP, untuk mengantisifasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.(SR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *