Lotim Pengirim TKI Terbesar

DISKUSI : Suasana kegiatan ‘’Focus Group Discussion’’ bertajuk ‘’Human Trafficking’’ yang diselenggarakan oleh LSP2M NTB, di Hotel Pondok Bambu, Sekarteja, Lotim, Rabu (26/8). (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)
DISKUSI : Suasana kegiatan ‘’Focus Group Discussion’’ bertajuk ‘’Human Trafficking’’ yang diselenggarakan oleh LSP2M NTB, di Hotel Pondok Bambu, Sekarteja, Lotim, Rabu (26/8). (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Kabupaten Lombok Timur adalah daerah terbesar sebagai daerah pengirim tenaga kerja Indonesia (TKI), terutama sebagai pencari kerja di luar negeri.

Dari catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lombok Timur, bahwa TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kini sedang bekerja di luar negeri yang jumlahnya terbanyak di Indonesia, 60 persen lebih berasal dari daerah Lombok Timur.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ketenagakerjaan Dinas STT Lotim, Lalu Sadli Bahtiar pada saat menjadi salah satu pembicara pada ‘’Focus Group Discussion’’ bertajuk ‘’Human Trafficking’’ yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LSP2M) NTB, di Hotel Pondok Bambu, Sekarteja, Lotim, Rabu (26/8).

Sadli Bahtiar memaparkan, sebagai daerah terbanyak mengirim pahlawan devisa, tentu Lombok Timur paling banyak mengalami berbagai masalah terkait tenaga kerja, terutama terjadinya kasus ‘’Human Trafficking’’.

Sadli Bahtiar mengakui, banyak terjadi ‘’Human Trafficking’’ ini, akibat dari banyaknya masyarakat yang berangkat menjadi TKI ke luar negeri melalui jalan yang ‘’non prosedural’’ dan sudah barang tentu akan menuai banyak resiko.

‘’Masih banyak masyarakat kita yang menjadi TKI melalui jalur non prosedural seperti tidak melalui PJTKI yang legal, kemudian maraknya aksi manipulasi data dan dokumen calon tenaga kerja oleh oknum-oknum yang merekrut calon TKI itu sendiri,’’ kata Sadli Bahtiar.

Untuk itu, atas nama pemerintah daerah, Sadli Bahtiar menghimbau kepada para peserta diskusi untuk menyampaikan kepada masyarakat atau para calon pencari kerja ke luar negeri agar mengikuti jalur yang prosedural dan melalui PJTKI yang resmi.

Pembicara lain dalam Focus Group Discussion ini adalah Roma Hidayat dari lembaga Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI), I Nyoman Samba (Kanit Perlindungan Tenaga Kerja) mewakili Kasat Reskrim Polres Lotim, dan Eko Prihantono dari unsur Akademisi.

Roma Hidayat lebih banyak memaparkan kasus-kasus yang menimpa para TKI, khususnya yang berasal dari Kabupaten Lotim, berikut penyebap terjadinya banyak berbagai kasus.

Di antara sekian banyak kasus TKI yang paling menonjol, kata Roma Hidayat, adalah kasus penjualan manusia bagi pencari kerja ke luar negeri, selain kasus perlakuan para TKI oleh para majikan di tempat kerja yang masih belum manusiawi.

Penyebab dari itu semua, lanjut Direktur ADBMI ini, adalah disamping masih lemahnya pengawasan pemerintah, juga disebabkan oleh kultur dan kemiskinan masyarakat, sehingga lebih banyak yang mencari hidup sebagai buruh migran.

Sementara itu, dari unsur kepolisian menyebutkan bahwa ‘’Human Trafficking’’ ini tergolong tindak pidana yang ancamannya adalah penjara minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun.

Modus yang paling marak dalam catatan kepolisian kata Nyoman Samba, para pihak yang merekrut calon TKI ini adalah dengan memanfaatkan kebodohan masyarakat dengan iming-iming pekerjaan yang penghasilannya cukup menjanjikan.

Sedangkan Eko Prihantono dari unsur Akademisi dalam penyajiannya memaparkan pandangan lain. Menurutnya, meminimalisir kasus Human Trafficking ini, pemerintah perlu berpikir lebih serius untuk memberikan keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia, sehingga calon TKI yang ke luar negeri itu tidak hanya mengandalkan otot saja tanpa dibarengi dengan keahlian (skill).

Menurut Eko, tidak jarang terjadi kasus perdagangan manusia akibat orang yang di rekrut sebagai TKI itu tidak mendapatkan job, karena tidak ada keterampilan, sehingga banyak yang mengambil jalan pintas dari pada tidak bekerja.

Peserta diskusi berjumlah ratusan orang utusan dari semua kecamatan se-Lotim dari unsur calon tenaga kerja, lembaga-lembaga pemerhati ketenagakerjaan dan beberapa mantan TKI/TKW, baik yang sudah purna kerja maupun yang sempat menjadi korban Human Trafficking.

Antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi ini, sangat tinggi, dilihat dari banyaknya para peserta yang mengujani penyaji dengan berbagai pertanyaan, terutama terkait kebijakan pemerintah daerah dalam hal tenaga kerja, dan ketegasan aparat hukum dalam memberikan perlindungan para korban tenaga kerja.(Kml)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *