Bersama Rakyat TNI Kuat

IRUP: Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi saat sebagai inspektur upacara pada apel HUT TNI ke-70 di lapangan Malomba Ampenan.

IRUP: Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi saat sebagai inspektur upacara pada apel HUT TNI ke-70 di lapangan Malomba Ampenan.

MATARAM, Lomboktoday.co.id – HUT TNI ke-70 tahun 2015 dilaksanakan di lapangan Malomba Ampenan. Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam upacara tersebut, orang nomor satu di NTB itu membacakan sambutan Presiden RI, Joko Widodo.

Dalam sambutan Presiden Joko Widodo itu, gubernur mengatakan, dalam menapaki usia yang ke-70 tahun, TNI bisa menggunakan momentum ini untuk mengingat kembali jati diri TNI sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional. Untuk itu, ia mengapresiasi tema HUT TNI ke-70, yakni ’’Bersama rakyat TNI kuat, hebat, profesional siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian’’.

Sejarah mencatat, TNI dilahirkan dari rahim rakyat. Panglima Besar Jenderal Soedirman menyatakan, hubungan TNI dan rakyat adalah ibarat ikan dan air. Ikan tidak akan hidup tanpa air. Rakyatlah yang mengandung, merawat dan membesarkan TNI.

Untuk itu, TNI harus menegaskan jati diri sebagai tentara rakyat. Sebagi tentara rakyat, TNI tidak boleh melupakan rakyat. TNI tidak boleh menyakiti hati rakyat. TNI tidak boleh berjarak dengan rakyat serta harus selalu bersama-sama rakyat. Hanya dengan bersama-sama rakyat, TNI menjadi kekuatan militer yang hebat dan kuat, yang   diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu, dalam darah TNI juga mengalir jati diri sebagai tentara pejuang, yang memiliki semangat pantang menyerah untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Dengan semangat juang, TNI harus mampu menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). ’’TNI harus mampu menghadapi para penjajah sumberdaya laut dan perikanan kita. TNI harus mampu menjaga wilayah perbatasan dan pulau-pulau terdepan kita,’’ katanya.

Sebagai bangsa yang majemuk, katanya, rakyat harus bangga memiliki tentara nasional. TNI harus menempatkan diri sebagai perekat kemajemukan dan menjaga persatuan Indonesia. Sebagai tentara nasional, TNI tidak boleh tersekat-sekat dalam kotak suku, agama dan golongan. TNI adalah satu yakni tentara nasional, yang bisa berdiri tegak di atas semua golongan, mengatasi kepentingan pribadi dan kelompok, yang mempersatukan ras, suku dan agama dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Bersama-sama rakyat, TNI harus terus menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an, hanya dengan itu, Indonesia bisa menjadi bangsa majemuk yang kuat dan solid.

’’Karena bangsa kita bukan hanya menghadapi tantangan di bidang politik, keamanan dan ekonomi, namun juga menghadapi tantangan dalam mengelola kemajemukan. Kemajemukan bisa menjadi kekuatan yang maha dahsyat jika kita mampu menjaganya dengan baik. Banyak bangsa yang harus menhadapi takdir sejarah, terpecah belah, tercerai berai, karena tidak mampu menjaga kemajemukan. Ini tidak boleh terjadi di bumi pertiwi kita,’’ ungkapnya.

Dijelaskannya, keragaman dan perbedaan, janganlah menjadi sumber konflik, kemajemukan seharusnya semakin melengkapi atas kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Justeru keragaman menjadi perekat bangsa, menjadi energi kolektif mencapai kemajuan bangsa. ’’Kita harus mampu menjadikan kemajemukan itu sebagai kekuatan kita dalam menyongsong masa depan. Saya membayangkan dalam lima tahun mendatang, pembangunan kekuatan pertahanan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kekuatan pertahanan minimum dalam pertahanan negara tri matra terpadu, tapi juga ditujukan untuk memperkuat jati diri sebagai negara maritim, dengan kekuatan maritim regional yang disegani di kawasan Asia Timur,’’ ujarnya.

Dengan berbagi upaya itu, ia berharap agar TNI lebih siap dalam menghadapi corak peperangan masa depan di tengah kondisi geografis khas negeri ini, sebagi negara maritim.

Karenanya, perlu meningkatkan kapasitas pertahanan nasional melalui pembentukan TNI yang profesional. Prajurit TNI harus terus menerus meningkatkan kemampuannya dengan melakukan latihan-latihan berkesinambungan.

Untuk membangun kekuatan pertahanan, harus bisa memenuhi kebutuhan alutsista secara terpadu. Modernisasi teknologi pertahanan untuk terus menerus mengimbangi kemajuan zaman.

’’Kita juga sedang mewujudkan kemandirian pertahanan dengan mengurangi ketergantungan impor kebutuhan pertahanan melalui pengembangan industri pertahanan nasional. Kemandirian pertahanan juga kita bangun melalui diversifikasi kerjasama pertahanan sesuai dengan kepentingan nasional kita,’’ jelasnya.

Namun perlu diingat, lanjutnya, hal itu tidak menjadi satu-satunya syarat untuk membangun kekuatan pertahanan negara. Namun diperlukan pula pembangunan karakter pejuang dalam diri prajurit TNI, revolusi mental untuk membangun prajurit yang profesional. Selain itu, tidak kalah pentingnya penyiapan kualifikasi komando, mekanisme persediaan logistik dalam operasi militer dan non militer, sinergitas antar koprs dan antar instansi, serta kualifikasi keterampilan melaksanakan operasi.

TNI yang terdidik dan terlatih, tidak akan menjadi kekuatan yang efektif apabila prajurit dan keluarganya tidak sejahtera. Untuk itu, negara akan benar-benar memastikan adanya penghormatan yang layak bagi para prajurit TNI. Pemerintah akan memberikan perhatian pada prajurit-prajurit TNI yang bertugas di kawasan perbatasan, pulau-pulau terdepan, serta di kawasan terisolir.

’’Saya minta kepada seluruh prajurit TNI untuk terus meningkatkan kemampuan, profesionalisme, dan kesiap-siagaan dimanapun kalian berada dan bertugas. Mari kita jaga dan pelihara keutuhan dan kekompakan TNI, peliharalah dan jagalah terus kemanunggalan TNI dengan rakyat, karena bersama rakyat TNI kuat. Pegang teguh amanat Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Jadilah TNI yang berjuang, yang dicintai dan mencintai rakyat,’’ pungkasnya.(ar/dra/ltd)

Kirim Komentar

Leave a Reply