Tradisi Nyalamaq Dilauq Ungkapan Rasa Syukur

POSE: Wagub NTB, H Muh Amin pose bersama dengan para tokoh masyarakat Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lotim, saat menghadiri acara Tradisi Nyalamaq Dilauq yang digelar di Pusat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, Rabu (07/10).
POSE: Wagub NTB, H Muh Amin pose bersama dengan para tokoh masyarakat Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lotim, saat menghadiri acara Tradisi Nyalamaq Dilauq yang digelar di Pusat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, Rabu (07/10).
POSE: Wagub NTB, H Muh Amin pose bersama dengan para tokoh masyarakat Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lotim, saat menghadiri acara Tradisi Nyalamaq Dilauq yang digelar di Pusat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, Rabu (07/10).

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Salah satu tradisi turun temurun dari generasi ke generasi yang masih terpelihara hingga kini oleh masyarakat pesisir yang tinggal di sekitar Pantai Tanjung  Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, adalah Tradisi Nyalamaq Dilauq yang digelar di Pusat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, dihadiri Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, H Muh Amin, Rabu (07/10).

Tradisi ini merupakan simbol dan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap rizki yang diterima, yang mana sebagaian besar penduduk aslinya berprofesi sebagai nelayan.

Menurut Wakil Gubernur NTB, H Muh Amin, tradisi yang melambangkan kokohnya persaudaraan dan kebersamaan ini, patut dipertahankan dan dilestarikan. Karena, event ini merupakan salah satu dari kekayaan budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat NTB, yang kedepannya harus dikemas dengan lebih baik lagi dan dijadikan agenda tahunan pariwisata yang pada ujungnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karenanya, hal ini perlu mendapat dukungan pemerintah, baik kabupaten dan pemerintah provinsi sebagai ikhtiar pelestarian budaya. Apalagi tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun silam.

Salah seorang tokoh masyarakat Tanjung Luar, Mukti Ali yang juga selaku Ketua Penyelanggara menjelaskan, ritual ini juga memliki makna mendalam terhadap pelestarian ekosistem laut dan ekologi pesisir. Karena, dalam ritual ini, para nelayan sepakat untuk tidak melaut selama tiga hari setelah puncaknya menghanyutkan kepala kerbau yang sebelumnya juga dimeriahkan berbagai kegitan selam tiga hari berturut-turut. Larangan ini sebagai simbol agar para nelayan memberikan kesempatan ikan-ikan untuk bertelur dan berkembang biak.

‘’Hal menarik yang dapat kita artikan sebagai simbol kebersamaan pada ritual ini adalah adanya iring-iringan perahu yang mengitari pesisir pantai dan arak-arakan kelililing kampong. Dimana, masyarakat mengenakan pakaian adat khas Mandar, Makassar, Bugis dan Bajo, membawa peralatan rumah tangga, seperti; perlengkapan dapur dan semuanya merupakan simbol kearifan nenek moyang para pelaut,’’ katanya.

Ada juga bendera dengan lima warna yakni warna Putih melambangkan Suku Bajo, waran Kuning melambangkan Mandar, warna Merah melambangkan Makasar, warna Hitam melambangkan Bugis dan warna Merah Putih melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Para nelayan juga memanjatkan doa kepada Sang Khaliq, Allah SWT, agar mendapatkan keselamatan dan  tangkapan mereka setelah berpuasa menghasilkan rizki yang lebih banyak lagi.(ar/dra/ltd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *