WNA Pemilik Cafe Honky Tonks Terancam Dideportasi

Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkum HAM Provinsi NTB, M Natsir.(Foto:Abdul Rasyid/Lomboktoday.co.id)
Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkum HAM Provinsi NTB, M Natsir.(Foto:Abdul Rasyid/Lomboktoday.co.id)
Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkum HAM Provinsi NTB, M Natsir.(Foto:Abdul Rasyid/Lomboktoday.co.id)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Kepala Divisi (Kadiv) Imigrasi Kanwil Kemenkum HAM Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Natsir meminta kepada setiap warga negara asing (WNA) agar tunduk kepada aturan keimigrasian yang berlaku di wilayah hukum Indonesia.

Hal tersebut dikatakannya sebagai tindaklanjut penanganan kasus yang dilakukan oleh pihak Imigrasi Kelas 1 Mataram terhadap WNA asal Inggris, Jane Anne Muldoon (62 tahun), pemilik Cafe Honky Tonks, Senggigi, Lombok Barat yang menggunakan dokumen keimigrasian yakni Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas) lanjut usia (lansia) untuk bekerja.

”Di Undang-Undang keimigrasian, sudah dijelaskan bahwa WNA yang menggunakan Kitas Lansia itu tidak boleh bekerja. Dan jika dia terbukti bekerja, maka tindakan yang harus diambil adalah yang bersangkutan harus dideportasi,” kata Natsir kepada Lomboktoday.co.id, di kantornya,Rabu (02/12).

Natsir menjelaskan, sanksi administratif tidak hanya ditujukan kepada WNA yang terlibat penyalahgunaan ijin tinggal saja, melainkan sponsor atau penjaminnya juga terkena imbasnya. Sebab, kata dia, penjamin harus bertanggung jawab dengan orang asing yang dijaminnya.

”Jika orang asing tersebut terlibat kasus pidana, maka sponsor atau penjaminnya juga ikut diproses. Jika orang asing tersebut terlibat pelanggaran administratif, maka sanksi terhadap penjamin dilarang menjamin lagi atau usaha penjamin bisa dibekukan,” ungkapnya.

Terkait hal ini, tim Lomboktoday.co.id, menemui pihak Imigrasi Kelas 1 Mataram, perihal sejauh mana proses pemeriksaan terhadap Jane. Dari hasil BAP diketahui bahwa Jane telah bekerja sebagai pengawas di cafe tersebut dengan menggunakan Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas) Lansia sebelum izin Penanaman Modal Asing (PMA) terbit.

”Dari bukti yang terkumpul, yang bersangkutan baru mengajukan ijin Penanaman Modal Asing (PMA) sejak sebulan lalu. Seharusnya yang bersangkutan belum boleh melakukan kegiatan selayaknya sebagai PMA sebelum izin PMA diterbitkan,” kata Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas 1 Mataram, Agung Wibowo.

Agung menjelaskan, sesuai Undang-Undang No.6 tahun 2011 tentang keimigrasian, yang bersangkutan diduga melakukan pelanggaran keimigrasian pasal 75 ayat 1 dengan ancaman pendeportasian dan dimasukkan dalam daftar tangkal.

Diketahui, pada Rabu (25/11) lalu, tim Imigrasi Kelas 1 Mataram mengamankan dua paspor milik WNA karena tertangkap tangan melakukan aktifitas atau bekerja. Setelah diperiksa, kedua WNA tersebut menggunakan dokumen keimigrasian berupa Kitas Lansia.(ar/hns/ltd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *