Border Tourism yang Membangunkan Kuching

Kapal Cruise MS Amsterdam nyandar.

Menerabas Rute Panjang Festival Wonderful Indonesia ke Perbatasan Aruk Kalbar (3-Habis)

PAGI hari di daerah Aruk, Sajingan Besar, Kalimantan Barat, hari ini, Sabtu (27/2), harusnya menjadi pagi yang tenang dan damai bagi warga setempat. Rutinitas sehari-hari, senda gurau sekumpulan warga, harus sirna sejenak dari pandangan mata. Mengapa? Karena saat itu, Aruk sedang diinvasi ribuan orang.

Ya, pagi hari tadi, kawasan perbatasan Aruk Kalbar dengan Kuching Malaysia itu memang diserbu ribuan manusia. Puluhan mobil berplat Malaysia bahkan ikut berjajar rapih di sekitar terminal Sajingan Besar. Tujuan mereka satu, menyaksikan Festival Wonderful Indonesia di Aruk, Kalimantan Barat. Orang Kuching benar-benar terpikat oleh festival yang diisi musik dangdut itu.

Pagi tadi, semua instrumen pendukung acara sudah siap. Band pengiring, artis, sound system, semuanya siap. Tapi, sebelum acara ada problematika yang menghampiri. Hujan deras mengguyur kawasan perbatasan. Durasinya lama. Dari subuh sampai pukul 13.00 waktu setempat, hujan tak kunjung reda.

Meski sempat diguyur hujan deras sejak subuh, semangat warga sekitar tak kendor. Masyarakat sekitar perbatasan Indonesia-Malaysia tetap antusias menyaksikan Festival Wonderful Indonesia.

Sebagian area penonton yang masih becek, tampak tak jadi halangan bagi penonton untuk bergoyang bersama teman dan pasangan yang datang bersama mereka, layaknya sebuah reuni. Maklum, masyarakat Aruk punya kedekatan emosional dengan warga Biawak dan Kuching, Malaysia.

Pesan boarding tourism yang digaungkan Menteri Pariwisata, Arief Yahya sukses ‘dimakan’ warga Malaysia.

Untuk ukuran kawasan perbatasan yang terpencil seperti Aruk, kehadiran ribuan orang rasanya sangat langka. Jalan kaki saja sudah mengantri. Pendapatan warung-warung kecil milik warga naik drastis.

Festival Wonderful Indonesia sukses menjadi ajang brainstorming yang sangat-sangat masif efeknya. Tak hanya di Aruk saja, namun juga mencapai Biawak dan Kuching, Malaysia.

Selama lima jam berlangsung, Aruk berubah menjadi surga boarding tourism. Semua orang happy. Semua bebas berjoget. Tenda-tenda berdiri di segala sudut, lapangan seluas setengah lapangan sepak bola dipenuhi manusia. Alhasil, satu slogan baru pun hadir dan menempel di pikiran masyarakat yang hadir; Wonderful Indonesia, bording tourism yang bagus.

‘’Info Festival Wonderful Indonesia tiap jam diputar di Cats FM Kuching. Masyarakat kami (Malaysia, Red) banyak yang penasaran. Kebetulan masyarakat kami sangat suka dengan dangdut,’’ tutur Nazari Bin Bujang, District Officer Sematan, dengan logat Melayu yang kental.

Pejabat Malaysia yang langsung berada di bawah gubernur itupun tak segan memuji terobosan berani Kementerian Pariwisata RI.

‘’Acaranya bagus. Khusus hari ini, border dibuka sampai pukul 18.00 waktu Malaysia. Mudah-mudahan di masa mendatang ada lagi festival seperti ini,’’ papar Nazari.

Di even perdananya, Festival Wonderful Indonesia menggelar beragam acara menarik. Dari mulai lomba sumpit tradisional, lomba menyanyi, hingga penampilan pelantun tembang ‘Bang Jali’, Linda Moy.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.