DPD RI Tuntut Perbaikan Keselamatan Penumpang Transportasi Laut

Farouk Muhammad.
Farouk Muhammad.
Prof Farouk Muhammad. (Dok/Lomboktoday.co.id)

JAKARTA, Lomboktoday.co.id – Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyampaikan rasa belasungkawa atas jatuhnya korban pada musibah tenggelamnya Kapal Motor Rafelia 2. Menilik kejadian itu, DPD RI menuntut pemerintah agar segera melakukan perbaikan sistem keselamatan penumpang transportasi laut.

‘’Musibah tenggelamnya KM Rafelia 2 di Selat Bali terjadi hanya berselang sekitar dua bulan semenjak kecelakaan Kapal Feri di Sulawesi Selatan yang juga menelan korban jiwa. Jelas ini menunjukkan ada yang salah pada sistem keselamatan pelayaran kita,’’ kata Wakil Ketua DPD RI, Prof Farouk Muhammad kepada wartawan di Jakarta, Minggu (06/3).

Farouk Muhammad mengatakan, sebagai negara kepulauan yang bercita-cita menjadi Poros Maritim dunia, pemerintah harus segera bangkit dan memperbaiki kinerja mereka dalam menjamin keselamatan lalu lintas perairan. Sebagai wakil daerah, ia merasa sangat prihatin dengan kondisi pelayaran di Indonesia yang buruk.

‘’Kebanyakan korban adalah warga daerah yang melaju antarpulau dan memang mengandalkan transportasi laut, karena tidak memiliki alternatif lain,’’ ungkapnya.

Senator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Barat (NTB) yang masa kecilnya hidup bersama nelayan tersebut menjelaskan, saat ini diperlukan adanya keberpihakan pemerintah terhadap penjaminan sistem keselamatan pelayaran.

‘’Tahun lalu saya dengar dari Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai bahwa setiap tahunnya dapat terjadi 30-40 kecelakaan kapal. Apabila temuan itu tidak segera ditindaklanjuti, maka pemerintah dapat dipandang melakukan pembiaran,’’ ungkapnya.

Farouk Muhammad, yang pernah menjabat sebagai Gubernur PTIK dan Rektor Universitas Bung Karno itu juga menyesalkan praktik pelayaran yang pragmatis, namun lalai terhadap kualitas keselamatan.

‘’Dari dulu sudah diungkap bahwa banyak kapal melaut dengan kelebihan beban dan tidak sesuai daftar manifest, lalu ada juga kapal bekas yang bebas berlayar dan tidak mengalami perawatan berkala. Seharusnya sistem pelayaran kita diperketat layaknya sistem transportasi udara. Jangan main-main dengan nyawa manusia. Tiap penumpang harus mendapat satu pelampung sebelum kapal berlayar,’’ ujarnya sambil memberikan solusi.

Sebagai Informasi, KM Rafelia 2 tenggelam di Selat Bali pada 04 Maret 2016 lalu sekitar pukul 13.00 WIB, akibat kebocoran pada lambung kapal. Kapal ro-ro berjenis landing craft tank (LCT) tersebut, mengangkut 80 orang, dengan 76 penumpang diantaranya dinyatakan selamat. Kecelakaan ini adalah kecelakaan kedua dalam tiga bulan terakhir setelah Kapal Motor (KM) Marina hilang kontak dengan syahbandar dalam perjalanan dari Pelabuhan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, menuju Pelabuhan Bansalae, Sulawesi Selatan, pada 19 Desember 2015 lalu.(ar/fm/ltd)

Leave a Reply

Your email address will not be published.