Tak Benar Lombok Endemik Malaria, Wisatawan Jangan Khawatir

3 minutes reading
Monday, 11 Apr 2016 10:52 1 355 Editor

MATARAM,Lomboktoday.co.id – Isu Lombok masih menjadi zona merah endemik penyakit Malaria dibantah Pemerintah Provinsi NTB. NTB beranggapan isu tersebut perlu diklarifikasi agar tidak merugikan daerah, terutama di sektor pariwisata.

“Malaria memang masih terjadi tapi secara sporadik, tidak masiv seperti dulu. Gubernur (NTB) juga sudah bersurat ke Kemenkes RI agar predikat zona merah Malaria dicabut, sebab ini berdampak pada kunjungan wisatawan kita, terutama dari negara-negara eropa.Padahal destinasi-destinasi kita aman dari Malaria,”kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal, Minggu malam (10/4).

Menurut Faozal, isu Malaria diduga merupakan upaya pihak tertentu dalam persaingan Pariwisata. Sebab zona merah Malaria kerap menjadi “bahan jualan” oknum travel agent dan biro jasa wisata untuk “menghadang” wisatawan masuk ke wilayah NTB.

“Dampaknya saat ini terasa pada menurunnya rata-rata lama inap wisatawan terutama dari eropa. Dan mereka juga selalu mengkonsumsi obat anti malaria begitu tiba di Lombok, sehingga justru lebih banyak tidur daripada menikmati destinasi,” katanya.

Faozal menyampaikan hal tersebut dalam acara media gathering dengan media massa yang diselenggarakan PT Bio Farma, BUMN farmasi Indonesia, di Hotel Lombok Raya. Acara tersebut dihadiri lebih dari 60 wartawan perwakilan media massa Jakarta, Bandung, dan Mataram, juga dihadiri Komisaris PT Bio Farma, Ihsan Latief, dan Sekretaris PT Bio Farma, Rahman Rustan.

Mewakili Gubernur NTB, KH M Zainul Majdi, Faozal memaparkan bahwa NTB tengah berikhitar menetapkan pilihan Lombok dan Sumbawa sebagai destinasi halal nasional. Dua predikat “The Best Halal Tourism Destination”dan “The Best Halal Honeymoon” yang diraih pada akhir 2015 lalu,terus didorong dan diimplementasikan secara bertahap, tanpa menutup wisata konvensional.

Halal destinasi untuk NTB ini sudah diatur dalam regulasi Peraturan Gubernur, dan sebentar lagi juga akan disusun Peraturan Daerah. NTB menempatkan diri pada Hilal Satu, yakni memastikan destinasi-destinasi yang ada menyediakan kebutuhan dasar bagi wisatawan muslim untuk dapat beribadah dengan nyaman. Misalnya, pada hotel tersedia mushola, dan di tiap kamar tersedia arah kiblat, Al Quran, dan sajadah.

“Beberapa hotel yang berada di resor juga sudah mendeklarasi sebagai hotel non alkohol. Namun, dengan label halal tourism ini bukan berarti NTB menutup pintu wisata konvensional, wisatawan juga bisa menikmati wisata konvensional misalnya di Gili Trawangan,”katanya.

Sekretaris PT Bio Farma, Rahman Rustan mengatakan, potensi wisata NTB sangat besar dan dapat dikembangkan lebih maksimal.Hal ini juga yang membuat PT Bio Farma memilih Lombok sebagai lokasi kegiatan media gathering.

“Indahnya alunan Kecimol dan nikmatnya pelecing kangkung di Lombok tentu hanya sebagaian kecil dari banyak hal yang bisa dinikmati selama berkunjung di daerah ini,”kata Rahman.

Menurut Rahman, kegiatan media gathering dilakukan PT Bio Farma untuk memperbarui informasi bagi insan pers terkait perkembangan kefarmasian terutama bio teknologi di Indonesia.(dra/gra)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA