Anak Tak Suka Pelajaran di Sekolah Bisa Jadi Kurang Gizi

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) NTB Hj Erica Zainul Majdi saat menjadi keynote speech dalam acara Nutrition For Future Investment (NFFI) Expo.(dok Humas NTB)

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) NTB Hj Erica Zainul Majdi saat menjadi keynote speech dalam acara Nutrition For Future Investment (NFFI) Expo.(dok Humas NTB)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Anak kurang gizi khususnya yang memasuki usia sekolah tidak hanya dapat dilihat dengan kasat mata. Namun, perilaku tidak disiplin, suka mengganggu teman, dan tidak suka dengan pelajaran tertentu misalnya matematika boleh jadi bagian dari tanda-tanda anak yang kurang gizi.

“Jadi, anak kurang gizi tidak melulu dilihat dari anak yang sakit-sakitan, tetapi dapat dilihat dari perilaku sehari-hari,” jelas Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) NTB Hj Erica Zainul Majdi saat menjadi keynote speech dalam acara Nutrition For Future Investment (NFFI) Expo di Atrium Lombok Epicentrum Mall, Kamis (14/4).

Karena itu, Erica mengajak para ibu dan bapak untuk menyediakan makanan sehat daripada membiarkan anak jajan sembarangan. Ia menyampaikan beberapa makanan yang memiliki nilai gizi tinggi dan harganya murah, seperti bayam, singkong, dan ubi ungu.

“Jika saja ibu-ibu di NTB ini menyediakan ubi ungu dan singkong sebagai camilan keluarga, maka anak-anak NTB dapat tumbuh dengan sehat. Saya pikir banyak bahan makanan di sekitar kita yang punya nilai ekonomis dan nilai gizi tinggi untuk diberikan pada anak-anak kita,” katanya mengimbau.

Erica mengajak mahasiswa Poltekkes Mataram untuk membuat buku tentang kreasi makanan bergizi dengan bahan-bahan yang harganya murah dan mudah diperoleh. Nantinya, buku tersebut disebarluaskan kepada masyarakat NTB. Penting untuk menempel poster di sekolah-sekolah yang berisi manfaat makanan sehat dan brosur tentang dampak negatif dari jajan sembarangan. “Jika saja informasi praktis seperti itu tersampaikan dengan baik kepada anak-anak, maka anak-anak menjadi anak-anak yang sadar gizi,” ujarnya.

Berdasarkan pendapat pakar mikronutrient, mencegah kematian ibu dan kurang gizi pada anak harus dimulai dari masa remaja. Karena untuk menghasilkan generasi yang sehat harus dilahirkan dari ibu dan ayah yang sehat pula.(ar/ltd)

Kirim Komentar

Leave a Reply