Temuan Gizi Buruk Tamparan Keras Pemkab Lobar

LOBAR, Lomboktoday,co.id – Sebulan lebih kasus gizi buruk di Lombok Barat sempat meredup, kini kasus serupa muncul kembali. Dua kasus muncul sekaligus. Yakni, Qaila Alimira Mirja usia 4 bulan dan Faizal Rahman 17 bulan. Qaila merupakan anak dari Quratul Aini warga Montong Are, Kecamatan Kediri, Lombok Barat dan yang satunya warga Dusun Tongkek, Desa Kuripan Induk, Kecamatan Kuripan. Berita tak sedap ini tentu saja menjadi tamparan keras Pemkab Lobar.

Bagi bayi Qaila oleh pihak RSUD Tripat Gerung telah didiagnose sebagai penyandang gizi buruk seminggu setelah dilahirkan. Alasan tak cukup biaya, oleh ibunya Qaila kembali diboyong pulang ke rumah. Lengkap sudah terpaan cobaan hidup Qaila. Ia tak hanya dicap penderita gizi buruk, namun lebih dari itu ia juga didera penyakit kulit dan jantung berlubang. “Saya tak pernah menyangka anaknya akan menderita gizi buruk. Sebab, saat lahir, berat badan Qaila terbilang normal, yakni tiga kilogram enam ons,” tukas Quratul Aini di rumahnya, Kamis (21/4).

Tak pernah berpikir akan kondisi terakhir anaknya, belakangan Quratul Aini  baru sadar jika kondisi kesehatan Qaila semakin menurun. Berat badannya semula tiga kilogram sembilan ons, namun merosot menjadi dua kilogram sembilan ons saja. Tentu saja keadaan ini mengejutkan Quratul Aini, mengingat suaminya Nasri tak memiliki pekerjaan tetap. Nasri hanyalah buruh serabutan. Apalagi yang harus dipikirkan selain soal biaya yang tak sedikit juga dirawat di Rumah Sakit.

Quratul Aini menyatakan, hampir sebulan Qaila dirawat di RSUD Tripat Gerung. Quratul Aini mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bantuan baru datang dari Puskesmas sebesar dua ratus ribu rupiah pada saat Qaila dibawa ke RSUD. Menurut dia, jumlah tersebut ternyata tidak cukup untuk membayar pengobatan Qaila dan biaya hidup sehari-hari di rumah sakit.

Lain halnya dengan Faizal Rohman. Bayi asal Dusun Tongkek, Kecamatan Kuripan itu  telah dibawa pulang keluarga. Padahal ia telah mendapatkan fasilitas perawatan dari rumah sakit secara gratis.

“Saya terpaksa bawa anak saya pulang karena tidak ada pihak keluarga yang menjaga di rumah sakit. Selain itu, meski gratis, itu hanya untuk pengobatan. Sementara untuk sehari-hari saya tidak memiliki biaya. Biaya untuk sehari-hari di rumah sakit enggak ada,” kata Abdurrahman, ayahnya.(hrw)

 

Kirim Komentar

Leave a Reply