Karantina Mataram Awasi Keluar Masuknya Hewan Ilegal

LOBAR, Lomboktoday.co.id – Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram berupaya meningkatkan kualitas pengawasan terhadap keluar masuknya hewan yang tidak memiliki kelengkapan legalitas izin. Pengawasan tersebut rutin digelar selama 24 jam terutama di tempat-tempat yang dianggap rawan, seperti pelabuhan serta bandara. Hal ini diklaim mampu meminimalisir dampak merambahnya penyakit Rabies.

Kepala Balai Karantina Kelas I Mataram I Putu Taruna Negara ditemui Kamis (19/5) di Lembar, mengungkapkan, sebagai tugas dan fungsi badannya yakni mencegah masuk dan menyebarnya penyakit hewan dan organisme pengganggu tumbuhan yang masuk dari luar negeri.

“Kita memliki wilayah kerja Lembar, Bandara Internasional Lombok (LIA), Pemenang, Lombok Kayangan. Dari seluruh wilayah kerja yang menjadi lokasi sasaran, menjadi prioritas antisipasi masuknya media pembawa hewan dan tumbuhan serta produk-produknya, yang tidak memiliki dokumen-dokumen sertifikat karantina. Kita rutin membuka setiap hari dan bekerja selama 24 jam,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk tahun 2016 dari bulan Januari hingga Mei pihaknya telah menindak penyelundupan hewan jenis unggas ayam  afkir dari Bali, yang ditahan di Mapak dan Malimbu. Kasus ayam afkir tersebut ditahan atas laporan masyarakat, yang melibatkan aparat kepolisian dari Polsek Ampenan.

“Sebanyak 3.000 ekor ayam afkir diamankan dan sudah melakukan penyelidikan hingga di P21 tinggal dilimpahkan ke pengadilan.” jelas Putu.

Sementara di tahun 2015 BKP melakukan penahanan, yang tidak terlalu signifikan, trennya masih biasa saja, namun melakukan penyelundupan yakni ada 2 kasus yang sudah di P21 oleh Polres Lombok Timur.

Beberapa jenis hewan yang dibutuhkan masyarakat seperti ayam afkir, sapi, burung, dan lainnya, semuanya masuk di tempat resmi tanpa memiliki legalitas yang jelas, artinya dapat disimpulkan atau dikategorikan penyelundupan. Untuk itu pihaknya terus menggelar aksi pemantauan dan memperketat pengawasan.

“Biasanya kalau jenis unggas, atau hewan yang berukuran kecil lebih trennya memakai jalur bandara, sementara untuk hewan yang berukuran besar seperti sapi cenderung  lebih memakai jalur pelabuhan,” tambahnya.

Di jelaskan, pada saat operasi balai karantina juga tetap bersinergi dengan pihak bea cukai dan kepolisian serta pihak pelabuhan. Dengan kesigapan pihaknya dan bersinerginya dengan pihak lain, minimal dapat diminimalisir keluar masuknya hewan ilegal tersebut. Keluarannya bukan berarti dengan banyaknya penyelundupan keberhasilan sudah diraih. Sebaliknya dengan menurunnya aksi penyelundupan adalah keberhasilan semua petugas di lapangan.

Menurut Putu, belum lama ini pihaknya juga telah berhasil menggagalkan penyelundupan burung yang mau menyeberang ke Surabaya yang sudah ditahan sebanyak 1.600 ekor. Barang bukti yang ilegal dimusnahkan, sedangkan kalau hewan yang dilindungi akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam. “Sedangkan yang paling mendominasi angka penyelundupan adalah jenis unggas,” tuturnya.(hrw)

Kirim Komentar

Leave a Reply