Lombok Barat Berdayakan SMP Terbuka

LOBAR, Lomboktoday.co.id – Persoalan pendidikan di Lombok Barat (Lobar) sejatinya kompleks. Ketersediaan medium pendidikan berupa institusi sekolah bukan saja kebutuhan masyarakat perkotaan, namun idealnya ketersediaan sarana untuk mendongkrak IPM ini juga harus menyebar di kawasan pedesaan terpencil sekalipun. Karena itu, tak mengherankan jika Pemkab Lobar mengupayakannya dengan pemberdayaan keberadaan SMP Terbuka yang tersebar hingga sembilan lokasi. Meski angka partisipasi pendidikan masyarakat di kawasan terpencil masih minim, bagi Pemkab Lobar tidaklah menjadi keraguan, tetap komit untuk tetap diberdayakan.

Kehadiran SMP Terbuka di tengah-tengah lingkungan masyarakat sebagai bentuk apresiasi pemerintah guna menyiapkan fasilitas pendidikan guna memberi pelayanan terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah.

“SMP Terbuka masih akan tetap dibuka untuk daerah yang terisolasi dan anak-anak yang berpotensi putus sekolah. Ini memang jembatan yang diberikan pemerintah untuk mereka agar tetap bisa sekolah,” kata Kadis Pendidikan Kebudayaan Pemuda Olahraga (Dikbudpora) Lombok Barat H Ilham.

Keberadaan SMP Terbuka sangat berguna dan bermanfaat bagi anak-anak yang memiliki mobilitas yang tinggi. Ia memisalkan anak jalanan atau anak yang menyambi bekerja membantu orangtuanya. Kepedulian pemerintah setidaknya bisa menyelamatkan mereka agar bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Masa mereka mau sekolah sampai tingkat SD saja? Kan kasihan. Maka itu, ini (sekolah SMP Terbuka, red) akan tetap diberdayakan,” ujarnya setengah bertanya.

Terhadap tingkat peminat SMP Terbuka yang masih rendah rendah, Ilham mengaku akan melakukan perbaikan secara perlahan.

“Terkait dengan minat masyarakat yang rendah, itu tetap kita lakukan perbaikan dan kita pertahankan. dan kita minta kepada semua stakeholder seperti Kades dan Kadus untuk ikut menyosialisasikan,” kata Ilham.

Dinas Dikbudpora, menurut Ilham, juga tetap akan memberikan intervensi kepada sekolah-sekolah yang masih rendah peminatnya. Bentuk intervensinya tentu berbeda-beda sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.

“Mengenai intervensi dan sosialisasi tetap akan kita lakukan dan disesuaikan dengan kondisi sekolahnya. Kalau memang gurunya yang tidak berkualitas, maka kita genjot kualitas gurunya. Kalau fasilitasnya, maka kita perbaiki,” ucapnya.(hrw)

Kirim Komentar

Leave a Reply