Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-18 TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Jakarta

(foto-foto dokumentasi NW)

(foto-foto dokumentasi NW)

JAKARTA, Lomboktoday.co.id – Antusiasme jamaah Nahdlatul Wathan Jabotadetabek untuk menghadiri peringatan Haul ke-18 Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Ahad (29/5) begitu besar. Ribuan jamaah memadati lingkungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang berlokasi di wilayah Penggilingan, Jakarta Timur, tempat pelaksanaan acara. Dengan kebanyakan mengenakan pakaian berwarna putih, mereka penuh khidmat mengikuti keseluruhan rangkaian acara dari awal sampai akhir.

Mereka yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta Timur, namun banyak yang berasal dari Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Mereka kebanyakan adalah jamaah majelis taklim yang diasuh oleh alumni-alumni Nahdlatul Wathan.

Tampak hadir sejumlah pelajar yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (IPNW), mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (Himmah NW) Jakarta, dan para alumni Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang tergabung dalam wadah Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan (IANW) Jakarta. Sejumlah alumni Madrasah Nahdlatul Wathan juga terlihat hadir, seperti M Masri Muadz (Penulis Buku Paradigma Al-Fatihah), Masnun (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), H Sukiman Azmi (Sekretaris BP2 Masjid Istiqlal), Ibrahim Husni (Mantan Wartawan Media Indonesia),  dan lain-lain.

Sementara di kalangan ulama, hadir di antaranya KH Muhammad Anwar (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hilal Jakarta) dan KH Zarkasih Usman (Ketua Forum Ulama dan Umara Kecamatan Cakung), dan lain-lain.

Tak terkecuali para santri yang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan. Mereka telah hadir sejak pagi dengan didampingi oleh orangtuanya masing-masing.

Haul_4_editedPeringatan Haul ke-18 Pendiri Nahdlatul Wathan kali ini diisi dengan pembacaan Hizb Nahdlatul Wathan dan Syafa’ah al-Kubra, dua di antara tradisi berdoa dan berzikir yang dikembangkan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Menurut Ustaz Muslihan Habib, membaca hizib merupakan tradisi yang dikembangkan oleh ulama sufi terdahulu.

“Tradisi berhizib dimulai pada zaman Abu Hasan Asy Syadziliy, pendiri Thariqah Asy Syadziliyah” Dan Maulana Syekh sendiri kemudian menyusun Hizb Nahdlatul Wathan sebagai doa dan zikir warga Nahdlatul Wathan setiap saat.

Seperti halnya, hizib yang ditulis oleh para ulama terdahulu, Hizb Nahdlatul Wathan merupakan pengalaman spiritual Maulana Syeikh, terutama pada masa penjajahan, ketika sebagian besar madrasah di Indonesia ditutup oleh Belanda dan Jepang karena dianggap sebagai basis perjuangan kaum militant melawan penjajah.

“Sebagaimana disebut oleh Maulana Syeikh dalam pengantar hizib, Alhamdulillah madrasah Nahdlatul Wathan terselamatkan dari ancaman penutupan itu,” ujar Muslihan menjelaskan.

Haul_5_editedSedangkan pembacaan Syafaah al-Kubra merupakan pembacaan zikir dan doa yang dikembangkan oleh Maulana Syeikh pada setiap pengajian dan ditujukan untuk memohon syafaah (pertolongan) Allah SWT di hari akhir nanti.

“Semangatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon pengampunan (magfirah) dan kasih sayang (rahmah) untuk diri kita dan mereka yang telah mendahului kita,” ujar Ustaz Muslihan menjelaskan.

Ketua Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan KH M Suhaidi menjelaskan bahwa terselenggaranya peringatan haul ini adalah berkat kekeluargaan dan persatuan jamaah Nahdlatul Wathan di wilayah Jabodetabek.

“Masing-masing berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidangnya sehingga acara ini bisa terselenggara. Tentu semua ini tidak terlepas dari kecintaan mereka kepada Maulana Syeikh dan harapan mereka untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT,” ungkap Suhaidi di hadapan jamaah.

Dari pembelajaran kebersamaan dalam peringatan haul ini, Suhaidi berharap kiranya menjadi modal yang berguna untuk membangun persatuan yang lebih luas untuk mengkontribusikan peran warga Nahdlatul Wathan dalam pembangunan agama, nusa dan bangsa.

“Semoga ke depan kebersamaan ini akan menjadi pemicu kita untuk semakin menunjukkan sumbangsih Nahdlatul Wathan bagi pembangunan agama, nusa dan bangsa,” pungkas Suhaidi.(ar/ltd)

Kirim Komentar

Leave a Reply