“Jangan Lihat Pendidikan dari Jumlah Anggaran”

Sekretaris Daerah NTB H Rosiady Sayuti saat Pemaparan Neraca Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota di NTB di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Selasa (21/6).(foto: Subhan/ Humas NTB)

Sekretaris Daerah NTB H Rosiady Sayuti saat Pemaparan Neraca Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota di NTB di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Selasa (21/6).(foto: Subhan/Humas NTB)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Ternyata posisi NTB dalam neraca pendidikan nasional dari segi APBN yang dialokasikan ke pendidikan masuk ke-4 terbawah.

Total anggaran untuk pendidikan sebesar Rp45 miliar belum termasuk APBD Provinsi untuk pendidikan yang disalurkan melalui BPKAD.

“Komitmen Gubernur NTB dalam bidang pendidikan sangat luar biasa. Hal itu, terlihat sejak awal pemerintahan Gubernur NTB di periode pertama NTB masuk ke dalam kuartal pertama hampir mencapai 20 persen dari APBD, namun pada tahun 2012 porsi APBD untuk pendidikan menurun karena terserap untuk membiayai Perda percepatan pemantapan jalan provinsi. Tetapi penurunan anggaran pendidikan tersebut tertutupi karena ada dana BOS untuk provinsi,” jelas Sekretaris Daerah NTB H Rosiady Sayuti saat Pemaparan Neraca Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota di NTB di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Selasa (21/6).

Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta mengapresiasi Gubernur NTB yang mengalokasikan anggaran 20 persen untuk pendidikan. Selama kurun waktu 70 tahun sejak kemerdekaan jumlah penduduk Indonesia yang melek huruf terus meningkat hingga berjumlah 96 persen.

“APBN untuk pendidikan di daerah setiap tahun terus meningkat. Tetapi besarnya anggaran pendidikan jangan dilihat dari jumlahnya, namun bagaimana mengelola anggaran tersebut dengan bijak,” ujarnya.

Lebih lanjut Ananto memaparkan kabupaten/kota yang mengalokasikan anggaran pendidikan tinggi, maka IPM akan tinggi. Begitu pula dengan kabupaten/kota yang anggaran belanja pendidikan tinggi untuk membantu peningkatan kualitas guru, maka sertifikasi guru juga meningkat.

Permasalahan buta aksara cukup tinggi, NTB menyentuh angka 10 persen di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 3-7 persen. “Namun, angka partisipasi SMP/MTS di NTB sangat tinggi berada di atas rata-rata nasional dan berada pada urutan 7 dari seluruh provinsi Indonesia. Begitu pula partisipasi SMA/SMK/MA di NTB di atas-rata-rata nasional. Jadi, NTB bisa menjadi contoh dalam Pilot Project dalam pelaksanaan Wajib Belajar 12 tahun,” tambahnya.

Menanggapi pemaparan tersebut, Sekda NTB menyampaikan adanya program Angka Drop Out Nol (ADONO) sehingga membuat Provinsi NTB konsisten dalam penanganan pendidikan yang tidak kurang dari 20 persen.

“Bahkan pada tahun 2012 Gubernur NTB memperoleh penghargaan sebagai Pembina pengentasan buta aksara nasional karena keberhasilan dalam program pengentasan buta aksara. Jumlah Buta aksara di NTB semula 800.000 turun menjadi 200.000. Jika menggunakan angka tersebut, maka buta aksara di NTB bisa di bawah 10%,” ujarnya.

NTB memiliki Perda Penyelenggaraan Pendidikan yang mencakup tujuh Pergub tentang pendanaan pendidikan termasuk di dalamnya pemberian beasiswa prestasi, beasiswa keluarga miskin, dan beasiswa infrastruktur pendidikan.

Pada tahun 2016, Provinsi NTB mengeluarkan anggaran untuk BOSDA sebesar Rp39 miliar yang dibatasai untuk sekolah atau madrasah swasta.

“Dengan BOSDA ini, rekan-rekan di lembaga pendidikan swasta terbantu. Sehingga tidak ada lagi honor guru swasta hanya Rp100.000 sebulan,” harapnya.(ar/ltd)

 

Kirim Komentar

Leave a Reply