Akhirnya, Wakil Ketua DPRD Lombok Timur Penuhi Panggilan Jaksa

Wakil Ketua DPRD Lombok Timur H Ridwan Bajeri menjalani pemeriksaan di ruangan Pidsus Kejari Selong.(foto: SR/Lomboktoday.co.id)

Wakil Ketua DPRD Lombok Timur H Ridwan Bajeri menjalani pemeriksaan di ruangan Pidsus Kejari Selong.(foto: SR/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Wakil Ketua DPRD Lombok Timur H Ridwan Bajeri akhirnya memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Negeri Selong, Kamis (23/6). Sebelumnya, dia urung diperiksa pada panggilan pertama Senin tanggal 20 Juni 2016 lalu karena beralasan sakit.

Kedatangan Ridwan Bajeri sekitar pukul 10.00 Wita dengan didampingi penasehat hukumnya, H Hulain langsung masuk ke ruangan Pidsus Kejaksaan Negeri Selong untuk menjalani pemeriksaan kasus pembangunan SDN 7 Terara.
Pemeriksaan berjalan tertutup. Awak media yang berusaha mengambil gambar jalannya pemeriksaan sempat dilarang penyidik. Ridwan Bajeri datang mengenakan tongkat, kopiah warga putih serta baju hitam.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Selong Iwan Gustiawan kepada wartawan mengatakan jika masih sakit, pemeriksaan tidak harus dipaksakan, melihat sampai sejauhmana yang bersangkutan kuat.
Dijelaskannya, sejak peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan, kejaksaan memanggil Ridwan Bajeri yang kedua kalinya.

Dalam kasus pembangunan SDN 7 Terara ini pada tahap penyidikan ini sudah memeriksa belasan orang. Di antaranya, Kanit UPTD Dikpora Terara H Sabarudin, Kepala Bidang Dikdas M Zaini, Kepala Dinas Dikpora Lotim Mahsin yang saat ini sudah pindah ke Kadishubkominfo Lotim termasuk para pihak yang memiliki kaitan dengan masalah kasus pembangunan SDN 7 Terara.

“Kami masih membutuhkan keterangan para pejabat di Dikpora Lotim sehingga kami akan melakukan pemanggilan lagi,” terang Iwan Gustiawan.

Namun, hingga kini kejaksaan belum menetapkan tersangkanya. Penyidik yang menangani kasus ini, Edy Woelson mengakui Ridwan Bajeri tidak hadir pada pemanggilan pertama karena sakit. Sayangnya, tidak ada surat keterangan dari dokter yang dilayangkan ke kejaksaan.

“Yang menelepon ke kami adalah pengacaranya yang mengatakan sakit. Tapi saat diminta surat keterangan sakit dari dokter tidak berani menjawab,” kata Woelson.(SR)

Kirim Komentar

Leave a Reply