Jaran Kamput, Seni dari Lombok yang Unik

Dua orang anal perempuan menaiki Jaran Kamput diarak kelililing kampung.(foto:hrw/Lomboktoday.co.id)

Dua orang anal perempuan menaiki Jaran Kamput diarak keliling kampung.(foto:hrw/Lomboktoday.co.id)

LOBAR, Lomboktoday.co.id – Seni tradisi Jaran Kamput di Lombok begitu melegenda karena masih dipertahankan keunikan dan ketradisiannya oleh sebagian besar masyarakat Lombok.

Jaran Kamput artinya kuda tunggangan yang dimanifestasikan dalam bentuk kuda-kudaan yang terbuat dari kayu yang bentuknya menyerupai mahluk aneh atau ogoh-ogoh, bahkan bentuknya seperti singa, naga, dan lain sebagainya. Bagi laki-laki Jaran Kamput biasanya ditunggangi menjelang akan disunat.

Jaran Kamput merupakan media permainan yang sifatnya menghibur bagi anak-anak dengan menunggangi kuda-kudaan tadi diarak keliling kampung, sembari diramaikan dengan berbagai tetabuhan kesenian tradisional dan tari-tarian Sasak yang lucu dan bisa menyenangkan anak-anak yang hendak dikhitan atau disunat.

Penampilan seni dan kebudayaan turun-temurun ini sangat atraktif dan selalu diiringi seperangkat alat musik gamelan lengkap dengan seruling yang disebut Pereret.

Hingga saat ini, di beberapa tempat di Pulau Lombok masih mempergunakan Jaran Kamput pada upacara daur hidup, seperti adat istiadat nyongkolan (mengarak pasangan pengantin) dan khitanan, bahkan kadang untuk memperaja (menggotong) tamu agung saat acara penyambutan.

Sanggar seni tradisonal di Lombok tidak sedikit yang mengusahakan mainan Jaran Kamput ini untuk disewakan ke masyarakat yang memiliki hajat perkawinan, khitanan atau acara adat lainnya. Tak jarang kelompok sanggar seni sering diundang sekaligus keahlian dan keterampilannya memainkan Jarang Kamput pada acara-acara tersebut di atas.

“Kita sering diundang juga untuk menyambut tamu agung baik bupati maupun gubernur yang berkunjung ke desa-desa menyambangi masyarakatnya dan meresmikan proyek atau acara ngawinang (perkawinan),” kata Ratimah, salah seorang pemilik Sanggar Seni di Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Di kelompoknya, Ratimah memiliki tiga pasang Jaran Kamput yang dipikul masing-masing empat orang. Jaran Kamput berukuran kecil dinaiki seorang anak yang akan dikhitan dan gadis kecil sebagai pendampingnya. Sedangkan yang berukuran besar digunakan untuk acara nyongkolan. Selain itu, Jaran Kamput yang besar juga yang digunakan dalam acara penyambutan tamu.

Menurut dia, penggunaan Jaran Kamput tidak lagi seramai dahulu karena sebagian besar masyarakat sudah malu menaiki kuda-kudaan berupa benda mati tersebut dalam kegiatan nyongkolan. Namun ia hanya terobsesi agar kesenian ini tidak punah akibat ditinggalkan masyarakat.

Dalam catatan sejarah kebudayaan Lombok, Jaran Kamput sebenarnya merupakan perwujudan dari sosok Sekardiu yang konon merupakan kendaraan atau tunggangan dari Jayangrana yang merupakan sosok staria dalam cerita pewayangan Sasak.

Dalam salah satu lakon Serat Menak dengan tokoh sentral bernama Jayangrana. Disebutkan Jayangrana memiliki kendaraan sakti bernama Sekardiu yang digambarkan dalam bentuk makhluk aneh dan tampak seperti kuda, singa, dan naga.

Jayangrana dan kendaraannya Sekardiu merupakan simbol yang tidak terpisahkan, karya besar masa lalu ini mestinya dapat dikaji agar dapat menjadi referensi bagi masyarakat masa kini, baik sebagai inspirasi maupun motivasi.

Makna yang terkandung di dalam simbol ini amatlah luas bagi bagi kehidupan sosial dan religiusitas masyarakat Sasak. Sosok Sekardiu atau Jaran Kamput ini layaknya juga menjadi salah satu maskot masyarakat Lombok.(hrw)

Kirim Komentar

Leave a Reply