Ada Asuransi 5.000 Sapi Betina

Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat Hj Baiq Haidar Indiana.(foto: bul/Lomboktoday.co.id)

Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat Hj Baiq Haidar Indiana.(foto: bul/Lomboktoday.co.id)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat(NTB) mulai bulan September tahun 2016 ini melaksanakan program asuransi untuk ternak sapi betina melalui PT Jasindo yang merupakan lembaga asuransi pelat merah. Targetnya, 5.000 ekor sapi.

Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat Hj Baiq Haidar Indiana kepada Lomboktoday.co.id di kantornya mengatakan, program ini adalah program pusat yang ditempatkan di NTB untuk membantu peternak dalam mengurangi kerugian yang disebabkan oleh ternak sapi yang sakit, mati, gagal melahirkan, dan juga akibat kehilangan atau kecurian.

“Jadi yang masuk dalam asuransi peternakan sapi ini adalah sapi yang betina bukan pejantan karena pemerintah ingin melindungi sapi untuk dapat berkembang biak dan yang masuk dalam program ini peternak perorangan atau kelompok semuanya kita terima,” ungkap Indiana, Rabu (28/9).

Besar premi yang dibayarkan oleh peternak hanya Rp40.000/ekor per tahun. “Sebenarnya besaran premi yang harus dibayar oleh petani peternak adalah Rp200.000/ekor per tahun, tapi karena pemerintah pusat yang membantu peternak sampai 80 persen maka yang dibayar oleh peternak adalah 20 persen dari Rp200.000 sama dengan Rp40.000/ekor dan jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka peternak akan mendapat klaim asuransi Rp10 juta per ekor,” jelasnya.

Sedangkan syarat-syarat untuk menjadi peserta dalam asuransi ini peternak memiliki sapi yang dikandangkan, sapi betina yang berumur minimal satu tahun, peternak sanggup sapinya di-Ertex (diberikan anting di telinga). Dan jenis klaim yang bisa diajukan ke PT Jasindo apabila ternak sapi sakit, sapi mati, sapi gagal beranak, dan sapi hilang.

“Untuk sapi yang sakit mekanismenya sapi sakit dijual dan berapa hasil penjualannya, jadi berapa kekurangannya dari Rp10 juta maka itulah yang akan dibayarkan kepada peternak, sedangkan yang gagal beranak sering terjadi di masyarakat peternak kita mereka memiliki sapi yang tidak mampu melahirkan disebabkan anaknya terlalu besar sehingga terkadang induknya sampai mati,” terang Baiq Haidar Indiana.

Ditanya tentang mekanisme pengajuan klaim asuransi kepada PT Jasindo, Indiana menambahkan untuk sapi yang sakit atau mati harus ada surat  keterangan dari mantri hewan yang berada di kecamatan tersebut.

“Sedangkan untuk sapi yang hilang harus ada surat keterangan hilang dari aparat keamanan setempat,” pungkasnya.(bul)

Kirim Komentar

Leave a Reply