10 Bulan Guru MI Belum Dapat Uang Lauk Pauk

Kakan Kemenag Kabupaten Lotim, H Nasrudin. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)

Kakan Kemenag Kabupaten Lotim, H Nasrudin. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Guru Negeri yang bernaung di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Lombok Timur mengaku gelisah lantaran belum dibayarkannya uang lauk pauknya selama 10 bulan. Dimana, para guru negeri MI tersebut mendapat uang lauk pauk sebesar Rp750 ribu per bulan. Sehingga hal ini menjadi pertanyaan dari kalangan guru negeri MI tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Timur, H Nasrudin saat dikonfirmasi malah berkilah bila masalah pencairan uang lauk pauk bagi guru negeri MI di Kabupaten Lotim bukan menjadi tugas Kemenag Lotim. Melainkan itu menjadi tugas Satuan Kerja (Satker) MI yang berkolasi di MI Negeri Gerumus, Kecamatan Sakra Barat, yang mengurus semua mengenai masalah uang lauk pauk maupun yang lainnya.

‘’Yang jelas, kami sudah tidak lagi mengurus masalah itu, karena sudah ada Satker yang bertanggungjawab dalam persoalan uang lauk pauk tersebut. Untuk lebih jelas, silakan saja konfirmasi ke Satker MI di MIN Gerumus,’’ katanya.

Begitu juga halnya mengenai uang lauk pauk untuk guru MTs dan MA, lanjut Nasrudin, sudah ada di Satker masing-masing yang mengurusnya. Sehinga bila terjadi masalah, di maka hal tersebut di luar tanggungjawabnya.

‘’Sudah lama kami tidak lagi mengurus uang lauk pauk untuk guru MI, MTs dan MA, karena sudah ada Satker masing-masing yang mengurusnya,’’ terang Nasrudin.

Kepala MTs Muallimin NW Pancor, H Hamdan mengatakan, dirinya tidak ada masalah dalam pembayaran uang lauk pauk, karena setiap bulan pihaknya tetap dapat melalui Satker masing-masing. Karena antara Satker MI, MTs dan MA, tentunya berbeda yang bertangungjawab. ‘’Kalau Satker kami di MTs Negeri Model Selong, dan pembayaran uang lauk pauknya cukup lancar. Untuk guru MI, saya tidak tahu menahu, karena satkernya berbeda,’’ katanya.

Salah seorang pengawas guru MI yang enggan dikorankan namanya mengakui, memang betul ada keterlambatan mengenai pembayaran uang lauk pauk tersebut. Hal itu bukan dikarenakan dari Satker yang ada, melainkan dari guru bersangkutan yang belum menyerahkan absennya sebagai syarat pembayaran.

‘’Guru sukanya lalai, sehingga berakibat pada uang lauk pauknya juga menjadi terhambat. Jika saja bila semua sudah tuntas, tentu Satker tidak akan menunda-nunda pembayarannya,’’ katanya pengawas tersebut.(SR)

Kirim Komentar

Leave a Reply