Merasa Dirugikan, Pengelola Fasum Pasar Layangkan Gugatan

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Merasa dirugikan lantaran kontrak pengelolaan fasilitas umum (Fasum) Pasar Mandalika, Bertais, Kota Mataram, diputuskan secara sepihak oleh PT Pade Angen, membuat PT Saga sebagai pemegang kontrak melayangkan gugatan.

‘’Kami sudah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Mataram, melalui kuasa hukum organisasi Asokadira NTB. Kami menggugat PT Pade Angen yang telah memutuskan kontrak secara sepihak,’’ kata Direktur PT Saga, Saidi kepada wartawan di Mataram, Sabtu (5/11).

Saidi menjelaskan, pada awal Oktober 2015 lalu, pihaknya membuat kontrak untuk mengelola fasum Pasar Mandalika selama 15 tahun.

Dalam surat kontrak yang ditandatangani bersama antara Saidi selaku Direktur PT Saga dan Direktur Utama PT Pade Angen saat itu, Djonar Siahaan, disepakati bahwa PT Saga akan mengelola fasum berupa lahan di kawasan Pasar Mandalika yang belum dimanfaatkan oleh PT Pade Angen.

Untuk pengelolaan selama 15 tahun itu, surat kontrak juga mengatur bahwa PT Saga harus membayar kontrak senilai Rp145 juta. ‘’Biaya kontrak sebesar Rp145 juta sudah kami lunasi dengan pembayaran tiga tahap. Kami serahkan langsung ke almarhum Pak Djonar,  disaksikan pegawai dan security PT Pade Angen saat itu,’’ ungkap Saidi.

Pasca kontrak dibuat, lanjut Saidi, pihaknya kemudian membangun dan mengelola lapak-lapak pedagang di lokasi yang belum dimanfaatkan PT Pade Angen, yakni di lahan kosong dan juga di lorong-lorong atau gang dalam pasar.

Hanya saja, papar Saidi, di tengah perjalanan tiba-tiba kontrak seolah tidak diakui dan diputus secara sepihak oleh pihak PT Pade Angen pada Oktober 2016.

Hal ini terjadi setelah ada pergantian Direktur Utama PT Pade Angen, karena Dirut sebelumnya, Djonar Siahaan meninggal dunia. ‘’Dari PT Pade Angen tiba-tiba saja melarang segala aktivitas kami di Pasar Mandalika. Padahal, kami baru berjalan satu tahun, dan kontrak disepakati 15 tahun,’’ ujarnya.

Menurutnya, upaya pemutusan kontrak secara sepihak dilakukan PT Pade Angen pada 21 September 2016 lalu, dengan cara mengancam akan membongkar lapak pedagang yang  dikelola PT Saga.

Parahnya, papar Saidi, upaya pembongkaran lapak pada 21 September itu, dilakukan dengan melibatkan oknum aparat keamanan yang diduga berasal dari unsur TNI Angkatan Laut (AL). ‘’Kami orang awam, jadi kami tidak bisa melawan. Apalagi pembongkaran dilakukan dengan melibatkan oknum aparat dari TNI AL,’’ jelasnya.

Akibat kejadian itu, lanjut Saidi, pihaknya mengalami kerugian, baik materil maupun moril. Sebab, keterlibatan oknum aparat terkesan bermotif intimidasi dan berpeluang menimbulkan trauma bagi pedagang kecil di Pasar Mandalika. ‘’Kami akhirnya melayangkan gugatan terkait masalah ini, agar semua menjadi jelas. Siapa yang benar dan siapa yang salah,’’ tukasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pasar Mandalika Bertais, Kota Mataram, Zainuddin mengatakan, penertiban lapak yang dilakukan PT Pade Angen selaku pengelola Pasar Mandalika Bertais, Kota Mataram dilakukan agar pasar lebih tertib.

Lagipula, papar dia, meski Saidi memiliki surat kontrak bersama Dirut PT Pade Angen sebelumnya, namun dana sebesar Rp145 juga yang disebutkan tidak pernah masuk ke kas perusahaan.

‘’Memang ada surat kontraknya. Tapi dana Rp145 juta itu tidak pernah tercatat masuk di pembukuan kami, sehingga surat itu tidak bisa kami akui,’’ katanya.

Terkait tudingan ada oknum TNI AL yang terlibat dalam kasus itu, Zainuddin menjelaskan, keterlibatan aparat itu hanya untuk pembinaan saja, dan bukan bermaksud intimidasi. ‘’Kalau keterlibatan TNI AL itu mungkin kebijakan manajemen (PT Pade Angen), tapi itu untuk pembinaan saja. Tidak ada yang merasa terintimidasi,’’ ungkapnya.(him/ar/ltd)

Kirim Komentar

Leave a Reply