Eco-Green, Langkah Maju Pembangunan Berbasis Ramah Lingkungan

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pembangunan daerah berbasis eco-green merupakan agenda jangka panjang Pemerintah Provinsi NTB. Berbagai kebijakan dan peraturan gubernur telah dibuat untuk mendukung agenda pembangunan tersebut.

Gubenur NTB, TGH M Zainul Majdi saat menerima tim tim Korea Selatan, di pendopo gubernur NTB, Minggu (23/4).

Bahkan, pada Maret lalu, Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi beserta sejumlah kepala SKPD terkait melawat ke Korea Selatan (Korsel) untuk menukar informasi terkait eco-green atau eco-tourism. Di sana, gubernur mengadakan pertemuan produktif dengan berbagai pihak untuk membahasa peluang pembangunan berbasis ramah lingkungan. Hal ini dianggap langkah maju untuk membangun bumi NTB yang berbasis lingkungan hijau.

Menindaklanjuti pertemuan di Korea Selatan tersebut, Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi menerima laporan tim Korea Selatan, terkait beberapa hasil kunjungan tim tersebut di beberapa spot wisata NTB. Tim yang terdiri dari Kim Nam Hong dan Mulyo tersebut beberapa hari sebelumnya telah mengunjungi Gili Trawangan dan KEK Mandalika Resort untuk melihat lebih dekat peluang dan tantangan penerapan electrical vehicles di kedua destinasi wisata tersebut.

‘’Saya berharap ide-ide yang bagus bisa terlaksana, seperti yang kita bicara di Korea. Waktu itu, untuk electrical vehicles, biomass dan eco-tourism,’’ kata Gubenur NTB, TGH M Zainul Majdi saat menerima tim tersebut di pendopo gubernur NTB, Minggu (23/4).

Saat itu, gubernur meminta tim tersebut untuk menjelaskan berbagai langkah untuk mengembangkan eco-tourism tersebut di NTB, khususnya di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Menurut gubernur, sebagai sister city dengan Jeju, pengembangan eco-tourism tidak sesulit daerah lain yang wilayahnya cukup luar.

Dari tim tersebut, gubernur mendapat laporan, hal penting yang menjadi prioritas untuk segera di tangani adalah pengelolaan sampah di Gili Trawangan. Meskipun sampah di destinasi wisata dunia itu tidak terlihat, namun perlu diantisipasi dengan penerapan teknologi pengelolaan sampah yang mumpuni. ‘’Sampah itu, bikin proyeknya sederhana saja. Tapi sampah itu bisa dimakan oleh larvanya. Larvanya itu sendiri bisa untuk ternak, seperti unggas, ikan dan dikomposing lagi,’’ jelasnya kepada gubernur dan beberapa kepala SKPD terkait.

Penerapan teknolgi tersebut, menurut tim tersebut, sudah berhasil dilakukan di Sumedang. Di daerah itu dijelaskan, meskipun dengan lokasi yang kecil, mereka dapat mengolah sampah sebanyak dua ton sehari, yang 30 persen organik dan 70 persen dibakar.

Terkait itu, gubernur menanggapi sejumlah kriteria yang ada di Gili Trawangan, seperti, lokasinya kecil, tidak boleh ada kebisingan yang merusak ketenangan wisatawan, tidak ada polusi udara dan bau, dan penanganan sampah harus selesai, tidak lagi ditimbun di daerah tersebut. ‘’Sampah itu tidak boleh ditimbun, apalagi berbau. Itu akan mengganggu kenyamanan,’’ ungkap gubernur.

Namun, tim tersebut menjamin pengelolaan sampah tersebut tidak akan menimbulkan polusi bau, bahkan akan menimbulkan efek positif lain, seperti peternakan, perikanan dan potensi lainnya.(ar/wan/bul/ltd)

Kirim Komentar

Leave a Reply