Wednesday, 17 May 2017

Global Hub Kayangan Harus Terus Diperjuangkan

JAKARTA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Mimpi membangun Global Hub Kayangan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus saja didengungkan. Apalagi setelah masuk menjadi kawasan andalan nasional, semua merasa optimistis pelabuhan internasional itu akan menjadi pelabuhan terbaik. Bahkan, konon bisa mengalahkan Selat Malaka dan Singapura.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem), Kurtubi.

Anggota Komisi VII DPR RI Dapil NTB, Kurtubi mengaku, memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan Global Hub Kayangan ini. ‘’Global Hub harus terus kita perjuangkan bersama-sama. Selaku wakil rakyat NTB dan sesuai kompetensi, tak hanya itu saya juga akan perjuangkan Global Hub ini terintegrasi dengan kilang minyak,’’ katanya melalui pesan singkatnya kepada Redaksi LOMBOKTODAY.CO.ID, Rabu (17/5).

Legislator Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem) ini menyatakan, Global Hub Kayangan (GHK) yang terintegrasi dengan kilang BBM sangat bermanfaat dan sangat dibutuhkan demi efensiensi perdagangan internasional, dan efensiensi biaya distribusi BBM ke Kawasan Indonesia Timur demi kepentingan pertahanan energi nasional.

Menurutnya, dengan adanya Global Hub Kayangan, biaya angkut per ton barang-barang niaga dari Eropa, Afrika dan Australia yang ke Jepang, Korea, Taiwan dan China, akan menjadi lebih murah melalui Selat Lombok. Karena, bisa menggunakan kapal-kapal niaga raksasa yang bisa lewat di Selat Melaka dan Singapura.

‘’Kapal-kapal niaga raksasa butuh pelabuhan singgah yang berada di perairan dalam seperti di Kayangan, baik untuk mengisi BBM sekaligus memberikan bahan baku untuk diolah oleh industri di Kota Baru Kayangan,’’ ungkapnya.

Kendati begitu, kembali dijelaskannya, investasi Global Hub Kayangan tidak hanya sekadar membangun pelabuhan. Dibutuhkan suplai listrik untuk pelabuhan laut dunia, kilang BBM dan kota baru yang modern. Energi listrik yang dibutuhkan dalam jumlah sangat besar yang mencapai 500 MW.

Bahkan jika digabung, kebutuhan listrik untuk pembangunan Smelter di KSB dengan kapasitas dua juta ton, dan industri hilirnya seperti pabrik kabel listrik, pabrik semen, pupuk dan petrokimia, dibutuhkan sekitar 1.000 MW.

Untuk itu, sambungnya, selain investasi fisik, juga dibutuhkan persiapan SDM yang handal dalam bidang kemaritiman. Karena itu, ia sudah meminta Menteri Riset Dikti untuk segera mengeluarkan izin sekolah Akademi Maritim Lombok di Tanjung Luar, Lombok Timur. ‘’Sewaktu rapat komisi, saya sudah menyerahkan Surat Permohonan Izin Operasi Akademi Maritim Lombok kepada Menteri Riset Dikti,’’ ujarnya.(ar/ltd)

Kirim Komentar

Tinggalkan Balasan