Kenaikan Harga Garam, Untungkan Petani Garam Lombok

SAWAH GARAM: Inilah sawah garam di Dusun Jor, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. (Foto: Makbul/Lomboktoday.co.id)

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Di tengah terjadinya kenaikan harga garam secara nasional, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk daerah yang aman dengan situasi kekurangan garam yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Bahkan, Provinsi NTB tercatat sebagai daerah yang surplus garam setelah dihitung dari kebutuhan garam untuk masyarakat dengan produksi garam yang dihasilkan petani garam kita.

SAWAH GARAM: Inilah sawah garam di Dusun Jor, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. (Foto: Makbul/Lomboktoday.co.id)

Dari pantauan LOMBOKTODAY.CO.ID di Pasar Bertais—Mandilka, dan Pasar Kebon Roek, Ampenan, kisaran harga garam antara Rp5.000 sampai Rp8.000 per kilogram.

Menurut Nuraini, salah seorang ibu rumah tangga yang selalu berhubungan dengan garam untuk memasak, harga yang ada saat ini tidak terlalu mengagetkan. Karena, satu kilogram garam bisa digunakan sampai satu bulan.

Lain halnya dengan Supriadi, salah seoarang petani garam di Dusun Jor, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mengaku diuntungkan dengan harga garam yang naik pada bulan-bulan ini. ‘’Saya merasa beruntung dengan kenaikan harga garam ini, karena kalau sebelum bulan puasa lalu, harga satu karung garam dengan berat 90 kilogram hanya laku dengan harga Rp60.000 sampai Rp100.000. Sedangkan sejak bulan puasa lalu, kami menjual dengan harga Rp300.000 per karung,’’ katanya kepada LOMBOKTODAY.CO.ID, Rabu (02/8).

Supriadi menambahkan, pada bulan puasa lalu, banyak pengusaha garam dari luar daerah yang datang untuk membeli garam ketempatnya, karena secara nasional pada bulan-bulan lalu, Indonesia kekurangan garam. ‘’Pada bulan lalu, tidak kurang dari enam fuso garam kita setiap hari yang dibawa ke Jawa dan Bali, karena pengusaha garam di sana kekurangan stok. Dan pada saat itu, harga garam kita sempat menyentuh harga Rp350.000 per karung,’’ ungkapnya.

Menurut Supriadi yang mengaku menjadi petani garam sejak kecil mewarisi pekerjaan orang tua dan neneknya dan diusahakan secara turun-temurun, usaha garam itu adalah usaha yang sangat terikat dengan cuaca panas. ‘’Usaha garam ini sangat terikat dengan panas matahari. Lonjakan harga pada bulan lalu, disebabkan karena kita gagal panen lantaran jarang muncul matahari bahkan hujan terus dan ini terjadi di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya menurut saya yang mengakibatkan harga garam itu naik,’’ ujarnya.

Dia juga menambahkan, hasil produksi garam dalam satu hektare hanya mencapai sekitar 10 ton dan pada umumnya kalau cuaca baik, bisa panen dua kali sebulan. ‘’Dalam usaha garam ini, kita biasanya panen dua kali sebulan dengan produksi sekitar 10 ton perhektare-nya dan garam Lombok dikenal sebagai garam yang kwalitasnya bagus bila dibandingkan dengan tempat lainnya,’’ jelasnya.

Ketika ditanya tentang apa peran pemerintah yang telah diberikan kepada petani garam. Supriadi mengaku belum ada intervensi pemerintah kepada petani garam, meskipun Negara ini ribut dengan kekurangan garam secara nasional. ‘’Saya sebagai petani garam heran dengan pemerintah yang mengaku kekurangan garam dan akan impor garam. Kenapa harus impor, coba pemerintah kumpulkan kami semua, bina kami dengan baik dan mari kita bukan lahan garam yang baru. di Lombok Timur ini saja, masih banyak lahan yang bisa dijadikan sawah garam, belum lagi di daerah-daerah lainnya, seperti di Jawa, Bali, NTB dan NTT,’’ pungkasnya.(bul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *