Oknum Satpam Larang Wartawan Meliput

PROYEK: Pembangunan proyek RSIK Labuhan Haji berdiri megah. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)

LOTIM, LOMBOKTODAY.CO.ID—Salah seorang wartawan media elektronik yang bertugas di wilayah Lombok Timur dilarang meliput atau mengambil gambar oleh oknum satpam di proyek Rumah Sakit Islam Kita (RSIK) Labuhan Haji, Lombok Timur. Meskipun telah memberitahukan identitasnya sebagai seorang jurnalis, namun tetap saja dilarang untuk meliput dengan alasan tidak ada ijin dari direktur PT Damai Indah Utama dan pihak yayasan.

PROYEK: Pembangunan proyek RSIK Labuhan Haji berdiri megah. (Foto: Syamsurrijal/Lomboktoday.co.id)

‘’Saya pertanyaan ada apa dengan proyek RSIK Labuhan Haji ini, kok wartawan dilarang meliput atau mengambil gambar,’’ keluh Muhtadon, wartawan Sasambo TV kepada LOMBOKTODAY.CO.ID, di Selong, Lombok Timur, Selasa (27/3).

Parahnya lagi, ia terus diikuti kemana berjalan di lokasi proyek tersebut, sehingga ia tidak bisa sama sekali untuk mengambil gambar. ‘’Dengan tidak dikasinya ngambil gambar, tentu hal ini saya secara pribadi sangat menyayangkan. Jadi, saya terpaksa mengambil gambar melalui rumah penduduk yang berada di samping proyek itu,’’ ungkapnya.

Mengetahui adanya pelarangan dan penolakan untuk meliput di proyek RSIK Labuhan Haji itu, sejumlah media cetak, elektronik dan online langsung meluncur ke lokasi proyek RSIK Labuhan Haji guna memastikan dan mempertanyakan masalah apa yang dialami wartawan elektronik ini.

‘’Kami datang ke sini untuk mempertanyakan kepada pihak perusahaan mengenai adanya pelarangan untuk meliput proyek RSIK ini,’’ kata Ruhel, wartawan Lombok TV dan Deki Zulkarnain, wartawan Online Kanal NTB.

Selanjutnya Burhanudin dari PT Damai Indah Utama dengan tegas membantah telah melarang wartawan datang meliput proyek ini. Cuma, harus ada permisi atau ijin terlebih dahulu agar pihaknya bisa mengetahui maksud dan tujuan wartawan bersangkutan.

Lebih-lebih pihaknya tidak ingin nanti ada yang memanfaatkannya. ‘’Itu yang kami khawatirkan. Jadi, kami tidak pernah menolak media untuk meliput, sepanjang ada komunikasi dan meminta ijin terlebih dahulu,’’ katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Lotim, Sarwin mengaku sangat menyayangkan jika benar ada wartawan yang dilarang untuk meliput di proyek RSIK Labuhan Haji ini. Sehingga menjadi pertanyaan besar ada apa dengan proyek RSIK tersebut.

Apalagi sudah jelas anggaran yang digunakan untuk membangun RSIK itu adalah dari dana Bazda dengan jumlah puluhan miliar rupiah. Dan lahan yang digunakan adalah asset Pemkab Lotim. Sedangkan yang mengelola adalah pihak yayasan, sehingga hal ini mengundang beragam pertanyaan dari masyarakat.

‘’Kalau memang tidak ada masalah dalam proyek RSIK, baik masalah lahan maupun lainnya, kenapa wartawan dilarang untuk meliput. Ada apa dengan pembangunan proyek RSIK ini,’’ ungkap Sarwin dengan penuh tanda Tanya.(SR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here