Lombok Diperingati Siaga dari Wabah Rabies

Gigitan anjing bisa terkena rabies.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat diperingati siaga dalam wabah rabies. Hal ini menyusul kasus gigitan anjing atau Hewan Penular Rabies (HPR) yang melanda Kabupaten Dompu, akhir-akhir ini telah banyak memakan korban. Setidaknya, sebanyak 5 orang meninggal dunia karena dinyatakan positif rabies dan ratusan orang lainnya terjangkit.

‘’Saat ini, Pulau Lombok kita peringati siaga dari wabah rabies,’’ kata Kepala Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ir Hj Budi Septiani di Mataram, Kamis (7/2).

Mengatasi hal serupa seperti yang terjadi di Kabupaten Dompu, kata Budi Septiani, maka untuk di Pulau Lombok telah dilakukan operasi gabungan (Opgab) di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur pada 29 Januari 2019.

Budi Septiani mengatakan, hasil pelacakan di Pulau Lombok terhadap gigitan HPR, khususnya di Kabupaten Lombok Timur pada 22 Januari 2019 lalu, hasilnya negatif. Kemudian pada 30 Januari 2019, laporan anjing di Kuta Mandalika Resort, Kabupaten Lombok Tengah, dengan sampel otak diperiksa dan hasilnya juga negatif.

Pada 11 Januari 2019, juga ada laporan kasus gigitan anjing dari PKM Karang Taliwang, Kota Mataram, namun negatif karena sesuai hasil penelusuran hewan tersebut terprovokasi lantaran baru melahirkan. ‘’Laporan kasus gigitan anjing di Kelurahan Mataram Barat, hewan penggigit diobservasi 14 hari dan hasilnya juga negatif,’’ ungkapnya.

Sementara atas kasus gigitan anjing yang terjadi di Kabupaten Dompu itu, pemerintah setempat pun tidak tinggal diam. Buktinya, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Rabies dengan sejumlah instansi terkait yang digelar pada 28 Januari 2019, telah dirumuskan untuk meminta Sekda Dompu agar bersurat kepada Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Kabupaten Dompu dan Perbakin Provinsi NTB guna membantu secara aktif melakukan eliminasi terhadap HPR yang dicurigai membawa virus rabies.

‘’Hingga Selasa (5/2), jumlah HPR yang sudah divaksinasi sebanyak 2.217 ekor. Yang dibunuh atau dieliminasi sebanyak 614 ekor. Sementara petugas Disnakeswan yang divaksinasi anti rabies (VAR) sebanyak 16 orang dengan sampel otak 10 orang positif,’’ ujarnya.

Budi Septiani menjelaskan, virus rabies yang umumnya ditularkan hewan seperti anjing ke manusia melalui gigitan, ternyata juga berpotensi untuk menular dari manusia ke manusia, meskipun saat ini angka kasus penularan tersebut minim. Namun hal itu sangat berpotensi untuk terjadi.

‘’Meskipun minim angka kasusnya, tapi tetap ada potensi virus rabies tersebut menular dari manusia ke manusia. Karena pada umumnya, virus rabies bergerak dari saraf menuju otak. Sesampainya di otak, virus tersebut memperbanyak diri lalu ke otot dan tertampung di air liur. Saat fase inilah biasanya penularan virus rabies terjadi dan tentunya beresiko juga untuk menular dari manusia ke manusia,’’ jelasnya.

Penularan itu terjadi jika air liur orang yang menderita rabies ini terpapar langsung ke luka seseorang yang sehat. Itu sebabnya tim medis dalam menangani pasien yang menderita rabies, biasanya juga memakai pakaian khusus.(sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply