Irzani: Ponpes Juga Bisa Ciptakan Enterprenuer Berbasis Teknologi

Calon Anggota DPD RI Nomor Urut 30 dari Dapil Nusa Tenggara Barat, H Irzani.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pondok Pesantren (Ponpes) sebagai lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia, diharapkan bisa menjadi tumpuan harapan dalam mencetak generasi yang handal dan bermoral.

Di era kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini, pondok pesantren dan para santri-santriwati bisa menjadi agen inovator juga kreator Teknologi Tepat Guna (TTG) yang bukan saja mampu memanfaatkan teknologi, tapi juga mampu melakukan inovasi TTG yang ramah dengan kalangan pondok pesantren.

Calon Anggota DPD RI Nomor Urut 30 dari Dapil Nusa Tenggara Barat, H Irzani mengatakan, potensi dan sumbangsih pondok pesantren sudah sangat teruji sejak dulu di Indonesia, termasuk di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selain sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren juga menjadi pusat pengembangan masyarakat dalam berbagai bidang, di antaranya ekonomi rakyat seperti koperasi dan usaha kecil, teknologi tepat guna, kesehatan masyarakat hingga pada konservasi lingkungan.

‘’Harus diakui, pondok pesantren dapat menjadi tempat penyemaian pemimpin masa depan dalam banyak bidang. Pondok pesantren juga berpotensi besar menjadi wadah pencetak enterpreneur yang bisa menggerakkan potensi ekonomi masyarakat, dan menjadi agen perubahan teknologi di zaman kekinian seperti sekarang ini,’’ kata H Irzani, Selasa (12/2).

Pengembangan teknologi tepat guna di pondok pesantren, menurutnya, harus mulai dilakukan saat ini. Para santri-santriwati sudah saatnya menunjukan kreativitas dan inovasi mereka di bidang teknologi tepat guna untuk membantu masyarakat.

Menurutnya, paradigma kebanyakan awam harus mulai berubah tanpa mengubah esensi pondok pesantren dan santri-santriwati itu sendiri. Sebab, teknologi tak akan membawa santri-santriwati keluar dari nilai-nilai kesantriannya karena teknologi adalah kebutuhan saat ini.

‘’Santri-santriwati di pondok ponpes modern bisa berselancar internet dengan gadget tanpa terpengaruh dampak negatifnya, karena santri-santriwati menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak menyalahgunakannya. Contoh itulah yang harus ditiru oleh santri-santriwati yang mampu melaju di tengah zaman tanpa harus malu mengakui identitasnya sebagai santri-santriwati,’’ ungkapnya.

Irzani menjelaskan, kemajuan teknologi juga punya banyak manfaat. Misalnya dengan smartphone, para santri-santriwati bisa mengaji Alqur’an atau membaca, mempelajari hadits, dan menela’ah kitab kuning. Lalu dengan gadget itu, mereka bisa mengatur waktu untuk beribadah dan melakukan kegiatan lainnya. Laptop juga bisa digunakan untuk dakwah dengan mengetik tulisan dan mengirimnya ke media masa atau mempublikasikannya sendiri di blog ataupun situs-situs berbasis Islam.

‘’Penyampaian ajaran Islam tidak selalu hanya melalui sebuah mimbar. Saat ini, banyak media penyampaian ajaran Islam yang dapat dimanfaatkan, salah satunya melalui lirik lagu. Group Band Wali telah membuktikan ini. Group Band jebolan Pondok Pesantren Dar-El-Qolam ini menyampaikan da’wah mereka melalui lirik-lirik lagu mereka,’’ ujarnya.

Menurut Irzani, pondok ponpes sebagai agen perubahan teknologi harus mulai didorong juga di Lombok, NTB. Hal ini menjadi tantangan bagi para pengurus pondok pesantren, agar mereka mampu mencetak kader ummah yang bukan hanya mempunyai kemampuan di bidang agama, tapi juga mampu berkembang dan mengembangkan masyarakat di tengah-tengah lajunya arus globalisasi.

Inisiasi Lomba TTG Ponpes

Pemanfaatan teknologi di dunia pondok pesantren akan membuka peluang bagi para santri-santriwati untuk bisa berkreasi dan berinovasi dalam bidang teknologi tepat guna (TTG) yang bermanfaat untuk masyarakat. Apalagi, kehidupan santri-santriwati yang selalu berbaur dengan masyarakat, sangat memahani potensi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Irzani mengungkapkan, pondok pesantren sebagai agen perubahan teknologi bias diinisiasi dengan lomba-lomba atau pameran TTG karya para santri-santriwati.

Ia menilai, ada cukup banyak ruang yang bias dimanfaatkan untuk hal ini. Misalnya saja, dalam kegiatan MTQ yang setiap tahun diselenggarakan dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. ‘’Di beberapa daerah di Jawa, hal ini sudah mulai dilakukan. Ada lomba TTG santri-santriwati, ada santri-santriwati yang membuat sistem pengairan pertanian, bahkan santri-santriwati ada yang bisa merangkai robot. Ya, tentu di Lombok yang potensi pertaniannya jadi unggulan, akan banyak hal yang bisa dikreasikan,’’ jelasnya.

Lomba semacam ini, tentu akan memicu semangat berkompetisi pondok pesantren di bidang TTG. Selain itu, juga menjadi wadah apresiasi dan penghargaan bagi pondok pesantren sebagai agen perubahan teknologi.

Sekretaris Umum PW NW Provinsi NTB ini menambahkan, mengembangkan pondok pesantren yang ramah teknologi seperti ini, menjadi salah satu cita-cita yang akan diperjuangkannya di kursi DPD RI Dapil NTB kelak.(sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply