Kades Sepapan Akui Kasus Jutaan Lalat

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kasus merebaknya jutaan lalat di Dusun Bare Due, Desa Sepapan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur yang kini banyak menjadi perbincangan di media social menjadi atensi serius Pemerintah Desa Sepapan.

Kepala Desa Sepapan, Hayadi.

Kepada Lombok Today (https://lomboktoday.co.id), Kepala Desa Sepapan, Hayadi membenarkan fenomena jutaan lalat di Dusun Bare Due. Menurut kades, munculnya serangga yang sering mengganggu makanan manusia ini, diduga dari adanya kandang ternak ayam potong milik salah seorang warga di dusun itu. Bahkan kata Kades, kandang ayam yang diduga menjadi sumber berkembangnya serangga ini, tidak hanya satu tempat melainkan ada di tiga tempat yang terpisah yakni di Dare Due, Gelogor, dan Dasan Repok.

Kades menyatakan pernah menerima pengaduan dari warga sekitar kandang yang mengaku merasa terganggu oleh fenomena makhluk yang sering mentransfer bakteri ke makanan manusia ini. ‘’Memang warga sekitar merasa terganggu oleh kemunculan lalat ini. Tapi warga itu ada yang berani mengungkap dan ada yang merasa tidak enak untuk memprotes, karna merasa ada hubungan kekerabatan dengan pemilik kandang,’’ kata Kades Sepapan, Hayadi di kantornya, Selasa (19/2).

Lalat.

Kini Pemerintah Desa Sepapan sedang berupaya melakukan pendekatan kepada para pemilik kandang untuk bersama-sama mencari langkah mengatasinya. ‘’Untuk sementara ini, kami mengimbau pemilik kandang agar mau melakukan penyemprotan,’’ ungkapnya.

Sementara desakan agar dibongkar atau dipindahkan ke tempat yang jauh dari pemukiman, menurut Alumni Fakultas Hukum salah satu universitas swasta di Lombok Timur ini, masih mempertimbangkan untuk dilakukan. Sebab, kandang itu tidak hanya satu tempat. Jika satu yang dibongkar, maka ketiganya juga harus dibongkar.

Selain itu, Kades merasa kasihan kepada pemilik kandang atas kerugian besar yang akan timbul jika dibongkar. ‘’Jika dibongkar tidak mungkin rangka kandang akan utuh pasti rusak, kan kasihan pemilik bakal mengalami kerugian yang nilainya ratusan juta rupiah,’’ ujarnya.

Yang pasti, Pemerintah Desa setempat berjanji akan mencari solusi yang lebih tepat agar pemilik tidak merugi dan wargapun tidak terganggu, baik oleh lalat maupun bau yang tidak sedap itu.(kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply