13 Kades Tolak Camat Jerowaru

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Sebanyak 13 kepala desa dari 16 desa di wilayah Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur masih gencar melakukan penolakan terhadap pelantikan Jumase sebagai camat di wilayah paling selatan Lombok Timur itu. Bahkan, aksi penolakan telah dilayangkan sebelum Jumase dilantik Senin lalu, karena para kades mengaku dapat bocoran bahwa mantan Plt Sekcam di Jerowaru bakal dilantik menjadi camat difinitif di tempat itu.

Camat Jerowaru, Jumase.

Pengakuan itu disampaikan Ketua Forum Kades Kecamatan Jerowaru, Hayadi kepada Lombok Today (https://lomboktoday.co.id), Rabu (27/2).

Menurut Hayadi yang juga Kades Sepapan ini, sebanyak 13 kades telah bersurat kepada Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy yang ditandatangani bersama berisikan penolakan saudara Jumase yang pernah menjadi Kasi Trantip di tempat itu untuk didefinitifkan menjadi camat di Jerowaru dan meminta Plt camat sebelumnya Kamaruddin sebagai camat di Jerowaru.

Namun keputusan berkata lain, malah Kamarudin yang diharapkan justeru menjadi camat di Keruak dan Jumase di Jerowaru. Alasan kuat aksi penolakan menurut Hayadi, karena merasa mengetahui rekam jejak Jumase selama puluhan tahun berdinas di wilayah Jerowaru, baik sebagai staf biasa, Kasi Trantip hingga terahir menjadi Plt Sekcam, yang bersangkutan dinilainya sering bertindak arogan ketika berada di kantor maupun kepada aparat desa dan masyarakat. ‘’Terus terang, karakter Jumase tidak layak menjadi pengayom masyarakat, karena orangnya sering arogan,’’ katanya.

Pernyataan dan sikap yang sama juga disampaikan Maskandar, Kades Pandan Wangi di kantornya pada hari yang sama. Setali tiga uang dengan Hayadi, Maskandar juga membenarkan bahwa 13 kades telah menandatangani petisi penolakan Jumase. Alasan senada yang bersangkutan (Jumase) sering bertindak arogan terutama di lapangan.

Pernyataan Kades Pandan Wangi dibenarkan oleh sejumlah staf dan beberapa kepala dusun dan beberapa anggota BPD Desa Pandan Wangi yang kebetulan sedang berada di kantor desa. ‘’Ampun-ampun pak kalau Jumase menjadi camat di Jerowaru ini, pasti pemerintahan tak akan bisa berjalan baik,’’ cetus Lalu Hafiz, salah seorang anggota BPD Desa Pandan Wangi.

Selain sejumlah kades, ungkapan rasa kecewa dan nada penolakan itu juga dikemukakan beberapa tokoh di wilayah itu. Di antaranya datang dari mantan Ketua PPK Kecamatan Jerowaru, M Sa’roni.

Tokoh Desa Jerowaru yang berprofesi sebagai guru madrasah dan pelatih Pramuka itu mengaku memiliki memori negatif dengan Jumase. Ditemui di madrasah tempatnya mengajar, Sa’roni mengungkapkan bahwa Jumase pernah menjabat sebagai Bendahara PPK pada Pemilu 2014 lalu yang ketika itu Sa’roni sebagai ketua PPK.

Selama menjabat bendahara PPK dipegang Jumase, lanjut Sa’roni, hampir setiap hari terjadi gejolak terkait keuangan. Pada ahirnya atas nama PPK, Sa’roni melayangkan usulan ke KPU Lombok Timur untuk mengganti, yang ahirnya KPUD Lotim langsung menggantinya. Catatan hitam dan sikap menolak juga datang dari Nursim, salah seorang tokoh masyarakat Dusun Penyambak, Desa Pandan Wangi.

Ditemui di rumahnya, Nursim yang juga salah seorang perangkat desa di kantor Desa Jerowaru itu mengaku sangat kecewa dengan keputusan Bupati yang melantik Jumase menjadi Camat di Jerowaru. ‘’Kami berkali-kali meminta kepada Bupati, baik secara langsung maupun pendekatan jalur keluarga hingga jalur tim sukses Sukiman pada saat Pilkada lalu, agar mendefinitifkan Kamarudin sebagai camat di Jerowaru. Tapi, kenapa orang yang paling kami khawatirkan yang dilantik. Kami yang pernah ikut berjuang menyukseskan pak Sukiman, sungguh sangat kecewa,’’ keluh Nursim.

Menanggapi aksi penolakan itu, Jumase selaku camat baru Jerowaru yang ditemui di kediamannya mengaku sudah mengetaui semua aksi penolakan terhadap dirinya, termasuk orang-orang yang menjadi aktor utama. Namun, Jumase merasa tidak risau dengan semua itu. ‘’Biarkan saja, saya sudah tahu semuanya, dan sah-sah saja itu hak mereka yang tidak suka terhadap saya. Lagi pula, pro dan kontra pasti ada terhadap segala sesuatu, apalagi ini menyangkut kebijakan pemimpin daerah, pasti ada yang suka dan tidak suka,’’ kata Jumase dengan nada enjoy.

Lagi pula, lanjut pria yang pernah bertugas di Bakesbangpoldagri Lombok Timur ini, jabatan camat yang kini diembannya bukan atas kemauan dirinya, melainkan atas keputusan pimpinan yaitu Bupati selaku yang memiliki otoritas penuh memutuskan. ‘’Saya kan tak pernah minta menjadi camat, dan jabatan ini bukan milik yang menolak melainkan selaku ASN siap melaksanakan perintah pimpinan. Selaku bawahan, saya selalu siap melaksanakan perintah pimpinan,’’ urainya.

Namun demikian, Jumase mengaku tidak ada rasa dendam atau benci terhadap oknum-oknum yang menolak dirinya. ‘’Semenjak jabatan ini melekat pada saya, langsung berpikir akan fokus pada pekerjaan, bukan menyimpan rasa dendam. Terlebih oknum yang menolak saya notebene kepala desa merupakan mitra kami yang harus saya bangun sinergi dengannya,’’ ungkapnya.(kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply