Kejari Selong Mulai Usut Kasus Tampah Bole

Kepala Kejari Selong, H Tri Cahyo Hananto.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kejaksaan Negeri Selong akhirnya mulai mengusut kasus penjualan tanah lapangan Tampah Bole di Dusun Kaliantan, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, yang diduga terjadi banyak kejanggalan dalam proses penjualannya.

Meskipun Kepala Kejari Selong, H Tri Cahyo Hananto belum mau memberikan keterangan soal dimulainya pengusutan kasus ini, namun terkuak setelah beberapa orang yang diduga terlibat dalam penjualan tersebut mengaku telah diperiksa penyidik Kejari Negeri Selong, Senin (18/3) pekan lalu.

Dari keterangan yang dihimpun Lombok Today (https://lomboktoday.co.id) di lapangan menyebutkan, sebanyak 10 orang yang diduga terlibat, telah dipanggil dan telah menjalani pemeriksaan awal oleh penyidik. Di antara 10 orang tersebut, 7 di antaranya berhasil diketahui identitasnya, antara lain; H Ayub, warga Dusun Ujung, Desa Pemongkong (mantan anggota BPD). H Iskandar, warga Dusun Semerang, Desa Seriwe (mantan anggota BPD Pemongkong sebelum mekar). Iman, warga Dusun Tabuan, Desa Kuang Rundun (pejabat Kadus sebelum mekar dari Pemongkong).

Inak Sahyam istri dari Amak Sahyam (alm) selaku salah satu pemilik sertifikat yang diduga fiktif. Amaq Mun (kadus Kaliantan sebelum mekar dari Pemongkong). Ahmad Zulkifli (mantan camat Jerowaru). Saharudin alias Caang, warga Dusun Serumbung (mantan anggota BPD Pemongkong).

Melalui ekspedisi jurnalistik yang cukup melelahkan, wartàwan media ini Senin (25/3) berusaha bertemu beberapa orang di antara yang sudah memenuhi panggilan penyidik Kejari Selong. Misalkan saja istri dari alm Amaq Sahyam yang beralamat di Sengkelok Dusun Kaliantan, Desa Seriwe, mengaku telah memberikan keterangan di hadapan penyidik bahwa mendiang suaminya tidak mengetahui diri memiliki atas nama di salah satu sertifikat di atas tanah Tampah Bole.

Wartawan melanjutkan perjalanan menemui Iman, di Dusun Tabuan yang kala itu menjabat sebagai kadus. Iman mengaku mengetahui proses penjualannya dan ikut bertandatangan, namun dirinya mengaku tidak pernah melihat uang hasil penjualannya. ‘’Saya sebut di depan penyidik tidak pernah melihat apalagi menikmati uang hasil penjualannya,’’ kata Iman seraya menambahkan bahwa semua rekannya yang diduga terlibat dalam penjualan dan telah dipanggil Jaksa, memberikan keterangan yang sama yakni sebatas ikut tandatangan namun tidak pernah melihat dan menikmati uangnya.

Sementara itu, mantan camat Jerowaru, Ahmad Zulkifli yang berusaha ditemui namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum berhasil ditemui dan nomor phoneselnya gagal dihubungi. Dari tangan salah seorang tokoh masyarakat Desa Pemongkong yang tidak bersedia disebut identitasnya, Lombok Today berhasil menemukan setumpuk dokumen tertulis berisi daftar pemilik nama di sertifikat yang diduga nama-nama tersebut adalah sederetan nama yang konon tidak mengetahui dirinya ada di sertifikat.

Tak hanya itu, dalam dokumen tersebut juga terdapat nama sejumlah pihak yang disebut menerima aliran dana hasil penjualan tanah Tampah Bole. Selain daftar penerima uang tersebut terdiri dari nama perorangan, juga terdapat beberapa nama lembaga atau yayasan yang beralamat di wilayah Kecamatan Jerowaru maupun luar Kecamatan Jerowaru.

Oknum tokoh pemegang dokumen tersebut juga mengaku sangat mengetahui proses dan konspirasi dalam dugaan rekayasa kepemilikan hingga penjualan tanah yang disebut tanah ulayat Tampah Bole itu. Tokoh ini juga menyatakan bersedia memberikan keterangan jika aparat penegak hukum membutuhkan dirinya.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply