Papuk Irah Difitnah Pertanda Calon Petahana Jokowi Tumbang

Wakil Ketua DPR RI, H Fahri Hamzah.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID  – Wakil Ketua DPR RI, H Fahri Hamzah marah besar lantaran Nenek Irah (Papuk Irah) dituduh telah mendapatkan imbalan uang sebesar Rp500 ribu bisa memeluk dan mencium kening calon presiden (capres) 02, Prabowo Subianto di atas panggung saat kampanye terbuka di Lapangan Karang Pule Sekarbela, Kota Mataram, Selasa sore (26/3).

Menurut Fahri, tuduhan terhadap Papuk Irah (sapaan Nenek Irah) merupakan sebuah fitnah, menyusul adanya bantahan dari Papuk Irah bahwa dirinya memang tidak pernah menerima uang Rp500 ribu dari tim Prabowo.

Fahri menjelaskan bahwa adanya fitnah terhadap Papuk Irah itu, pertanda mengharuskan rakyat untuk mengakhiri rezim kepemimpinan capres petahana Joko Widodo.

‘’Persekusi terhadap pendukung Prabowo-Sandi adalah cara bangsa kita untuk mengakhiri kepemimpinan yang bikin kita terluka. Pengorbanan Papuk Irah dan Nenek Roisah, korban fitnah takkan sia-sia. Kita akan mengakhiri rezim ini secara damai,’’ kata Fahri Hamzah saat dihubungi, Kamis (28/3).

‘’Nenek-nenek yang kalian fitnah itulah penjuru doa kami. Ya Allah, tumbangkan rezim ini dengan cara yang sehalus mungkin agar tak ada korban pada rakyat kami,’’ ungkap Fahri.

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H Bambang Kristiono dan istri, Hj Dian Bambang saat melakukan silaturahmi dan tatap muka ke tempat kost Papuk Irah, Rabu sore (27/3).

Seperti diketahui bahwa, Papuk Irah mendadak tenar lantaran dipeluk dan dicium capres Prabowo saat kampanye terbuka di Lapangan Karang Pule Sekarbela, Kota Mataram. Papuk Irah bersumpah tidak pernah menerima uang Rp500 ribu dari Prabowo. Ia membantah dibayar saat naik ke atas panggung.

‘’Demi Allah, saya tidak terima uang Rp500 ribu atau dibayar untuk naik panggung sama Prabowo,’’ kata Papuk Irah saat ditemui Ketua Badan Pengawas dan Disiplin Partai Gerindra, H Bambang Kristiono dan istri, Hj Dian Bambang.

Menurut Papuk Irah, dirinya menghadiri kampanye terbuka Prabowo di Lapangan Karang Pule Sekarbela, Kota Mataram itu atas kemauannya sendiri karena dari dulu ingin bisa melihat Prabowo.

‘’Saya sempat dilarang menghadiri kampanye Prabowo tersebut sama ibu Kaling, tapi saya nekat datang sampai di depan panggung karena ingin melihat Prabowo langsung,’’ ungkapanya.

Papuk Irah yang sehari-harinya berprofesi sebagai pemulung adalah seorang nenek tua yang hidup sebatang kara. Papuk Irah mengaku untuk tempat tinggal saja, dia harus membayar sewa/kost Rp500 ribu per bulan di Kampung Telaga Mas, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply