Lembaga Survei Berkontribusi Turunkan Kualitas Demokrasi pada Pileg 2019

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Lembaga kajian sosial politik M16 menduga keberadaan lembaga survei politik berkontribusi menurunkan kualitas demokrasi dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Hal ini dipicu oleh sejumlah release media hasil-hasil survei yang dipublikasi ke publik yang terkesan tidak menghitung kekuatan potensi caleg muda potensial dalam mengagregasi kekuatan pemilih yang sudah dipenetrasi.

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto (kanan) bersama Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah.

Nuansa subyektifitas lembaga survei politik yang cenderung tidak melakukan pemetaan/mapping secara menyeluruh, justru menghasilkan kesimpulan akhir yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Kuat dugaan lembaga survey politik memainkan taktik penggiringan opini untuk kliennya, tanpa melihat realitas perubahan persepsi politik rakyat di tingkat basis akibat munculnya caleg muda/caleg pemula yang menjadi idola rakyat di setiap dapil.

Adanya supremasi ini harus dilawan dan didelegitimasi oleh bersatunya caleg muda dengan cara memperkuat dan memperluas basis dukungan rakyat untuk membantah argumentasi lembaga survey politik. Hal ini sekaligus sebagai upaya melakukan early warning bahwa apa yang telah dilakukan oleh lembaga survey tidak menjadi satu-satunya sumber legitimasi kemenangan.

Jika fakta-fakta yang telah diungkap oleh lembaga survey bisa dilawan dan diatasi dengan taktik politik yang cerdik, maka hal ini tentu akan menyemangati/spirit bagi caleg muda untuk memperluas jaringan pemilihnya.

Menurut Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, keberadaan lembaga survey politik yang kurang presisi dalam menyampaikan kajian dan hasil surveinya, khususnya dalam hasil-hasil  Pemilu Legislatif 2019, justru berpotensi  menurunkan kualitas demokrasi karena informasi yang dipublish terkesan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

‘’M16 mendapatkan sejumlah informasi top secret lapangan bahwa Pileg 2019 di NTB berbeda dengan Pileg 2014 lalu. Di mana, caleg muda/caleg pendatang baru makin agresif dengan beragam taktik dalam meraih dukungan masyarakat. Mereka ini bergerak ibarat operasi kladestein, senyap tapi masif,’’ kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Ahad (31/3).

Didu demikian panggilan akrab Bambang Mei F mengatakan, gerakan senyap merayap caleg pemula di basis ini kerap luput dari analisis hasil lembaga survei, karena beragamnya strategi caleg muda dalam mengamankan basis-basis pemilih loyalnya. ‘’Kesan subyektifitas lembaga survey tentu akan mempengaruhi kredibilitasnya di mata rakyat, jika hasil surveinya tidak akurat,’’ ungkap Didu.

Selain itu kata Didu, keberadaan lembaga survei politik berpotensi mendemoralisasi semangat dan spirit caleg muda yang tidak konfiden/inferior dengan dominasi yang diduga melakukan buzzer penggiringan opini secara sepihak.

‘’Bisa jadi tidak bergeraknya dan tidak agresifnya sejumlah caleg muda di dapil pemilihannya, selain faktor internal, tidak menutup kemungkinan mentalnya sudah down duluan akibat publikasi lembaga survei yang seolah-olah memperkuat elektabilitas calon  tertentu. Hal ini kemudian dipandang menutup harapan bagi para caleg. Akibatnya caleg bisa jadi sulit move on menjadi tidak termotivasi di dapilnya,’’ ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah yang juga Caleg DPRD NTB dapil 8 Lombok Tengah no urut 2 dari Partai Perindo menambahkan, ia tidak pernah mau tahu dan menggubris lembaga survei politik terkait pengumuman hasil caleg yang memiliki elektabilitas yang kuat. ‘’Saya bersama caleg-caleg muda partai lain akan melawan supremasi dan membuyarkan prediksi lembaga survey tersebut dengan taktik dan strategi lain,’’ kata Athar.

Athar menilai, bahwa politik itu unpredictable dan selalu bergerak dinamis. Menjudgment hasil konstestasi pileg melalui survei tidak boleh sepenuhnya dipercayai karena ada faktor subyektifitas. Dan rakyat sudah tahu juga kalau lembaga survei itu tidak sepenuhnya independen.

‘’Hasil itu tidak bisa tertukar oleh orang yang tidak pernah turun ke basis dan hanya mengandalkan permainan persepsi semata. Saya tetap rajin turun ke basis, meski tanpa harus memakai jasa dan arahan lembaga survei. Saya nggak mampu bayar, mending biaya itu untuk mengentertain rakyat di dapil,’’ ungkap Athar.

Athar memprediksi Pileg 2019 akan makin banyak caleg muda yang melenggang di parlemen karena rakyat menginginkan wakilnya dari figur yang lebih merakyat dan tidak diragukan track recordnya.(sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply