Power Papan Dua Pilkada Kab/Kota se-NTB Kunci Utama Pemenangan

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Meskipun Pilkada kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Barat (NTB) masih tahun depan, yakni September 2020 mendatang, namun geliatnya sudah mulai terasa dari sekarang. Sebab, momentum puasa Ramadhan 1440 Hijriyah ini tampaknya akan manfaatkan untuk membangun komunikasi dan pesan politik ke publik.

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto.

Setidaknya ada tujuh kabupaten/kota di NTB yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak pada 2020 mendatang, di antaranya; Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Dan beberapa calon kepala daerah yang diprediksi akan bertarung di Pilkada 2020 mendatang sudah mulai melakukan silent operation deal-deal politik awal.

Hasil pileg utamanya perolehan kursi parpol di kabupaten/kota di NTB sudah dapat diprediksi meskipun KPU belum mengumumkan secara resmi.

Lembaga Kajian Sosial Politik M16 memastikan akan tampil muka-muka baru politisi yang duduk di parlemen kabupaten/kota. Hal ini tentu akan menjadi indikator penting yang patut dicermati terlebih oleh calon kepala daerah yang hendak bertarung dalam Pilkada serentak 2020 mendatang.

‘’Melihat konstruksi dan konfigurasi perolehan kursi di parlemen, maka tak heran jika nantinya parpol besar dan pemenang pemilu akan menjadi sasaran penetrasi awal para calon kepala daerah tersebut,’’ kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Selasa (7/5).

Terlepas konteks tersebut, kata Didu, demikian Bambang Mei Finarwanto biasa disapa, pilkada kabupaten/kota se-NTB 2020 mendatang, posisi papan dua(baca: calon wakil bupati/wakil wali kota) menjadi urgen sebagai vote getter pendulum suara pemilih.

Jika sebelumnya posisi wakil dipersepsikan sebagai jabatan apabila, maka dalam Pilkada 2020 mendatang diprediksi peran dan posisi tawar politik papan dua menjadi kunci utama dalam pemenangan.

Maka dipastikan papan satu (baca: calon bupati/wali kota) akan menggaet pasangan wakilnya tidak semata-mata memiliki kapasitas dan kapabilitas tapi juga melihat respon atau keberterimaan publik terhadap figur calon pemimpinnya tersebut.

Menurut Didu, Pilkada serentak kabupaten/kota se-NTB akan memunculkan figur baru terutama untuk posisi calon bupati/wali kota. Hal ini mengingat posisi wakil tidak bisa dianggap sepele seperti ban serep semata. ‘’Saat ini publik menginginkan calon kepala daerah yang dipilih kelak bisa membawa pembaharuan/perubahan yang bisa dirasakan langsung,’’ kata Didu.

Didu menjelaskan, posisi calon wakil bupati/wakil wali kota seyogyanya tidak sekadar mengekor popularitas papan satu, tapi ia juga harus bisa menunjukkan posisi tawar politik khususnya populis di kalangan rakyat dengan parameter yang jelas dan terukur .

‘’Posisi papan dua akan menjadi kunci kemenangan paslon bupati/wali kota jika paket tersebut memahami keinginan pemilihnya. Pun demikian sebaliknya, jika salah memilih paket pendampingnya akan menjadi blunder yang sia-sia,’’ ujarnya.

Guna mencari calon wakil bupati/wakil wali kota yang tepat, salah satu caranya mendorong figur-figur potensial tersebut untuk memperkenalkan diri ke publik secara transparan termasuk jujur terhadap rekam jejak masa lalunya. Hal ini penting agar publik dapat melacak dan mengetahui secara pasti figur pemimpin yang hendak dipilihnya tersebut.

‘’Di era yang serba transparan ini, publik menginginkan figur calon pemimpin daerahnya clear and clean dari berbagai permasalahan agar jalannya roda pembangunan tidak mengalami turbolensi,’’ katanya.(red)

Kirim Komentar

Leave a Reply