Soal Hasil Pleno KPU, Ini Pesan Kebangsaan Ketum PBNW

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Setelah KPU RI menuntaskan rekapitulasi nasional hasil Pilpres dan Pileg pada Selasa (21/5) dini hari, diharapkan kondisi bangsa Indonesia tetap dalam keadaan aman dan tenang.

Ketua I PBNW Tuan Guru Bajang KH Zainuddin Atsani.

Dan masyarakat tidak perlu berlebihan dalam menanggapi hasil kontestasi politik, karena ini adalah siklus lima tahunan yang sudah sering bangsa ini lakukan.

‘’Yang masih kurang puas dan tidak menerima hasil ini, hendaknya menggunakan jalur konstitusi yang sudah diatur Undang-Undang,’’ kata Ketua Umum PBNW melalui Ketua I PBNW, Tuan Guru Bajang KH Zainuddin Atsani, dalam keterangan pers yang diterima Lomboktoday.co.id, Rabu (22/5).

Peralihan kepemimpinan di Indonesia adalah transisi aman sebagai cermin bangsa yang dewasa. Bangsa inni sudah letih, karena 400 tahun mengalami kesengsaraan akibat ketidaksatuan antarkomponen bangsa.

‘’Kita harus sadar dan belajar lebih dewasa dengan peristiwa  transisi 1998. Tak akan ada lagi darah yang tersia percuma hanya atas dalih kekuasaan. Politik santun dalam sejarah Indonesia diapresiasi baik oleh dunia. Indonesia recovery dan sembuh sehat wal afiat karena arif menerima perbedaan dan yang kalah legowo tidak meraih kekuasaan. 2019 bangsa kita tidaklah uzur dan rapuh. Kita dewasa dan segar bugar mengawal kehidupan bernegara berbangsa,’’ ujarnya.

Tentu dalam kontestasi demokrasi dengan ratusan juta suara tak semua bisa puas dengan hasilnya. Tapi para elite panutan bangsa tentu dan wajib memenangkan kemashlahatan bangsa, bukan terkungkung pada hasrat memenangkan kelompok.

TGB Zainuddin Atsani menambahkan, jika terindikasi salah urus atau menyalahi prosedur, mekanisme yang telah ada harus didorong untuk menyelesaikannya.

‘’Konstitusi kita mengatur tata cara menyampaikan aspirasi dan melarang tegas setiap upaya pemaksaan kehendak meskipun atas dasar amar ma’ruf nahi mungkar. Mencegah kemungkaran dengan tindakan mungkar berpotensi melahirkan kemungkaran yang lebih luas. Mari menahan diri dari godaan amarah yang dapat merusak kesatuan dan ketenangan hidup bangsa,’’ ucapnya.

Cucu Pahlawan Nasional asal NTB ini menjelaskan, Ramadhan adalah bulan kedamaian bangsa Indonesia. Bulan paling aman dalam sejarah berbangsa yang dirasakan baik oleh kaum muslimin dan nonmuslim. ‘’Mari doakan agama, mari doakan negara secara setara. Karena dengan aman Negara, maka aman beragama,’’ ujarnya.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply