Kepala MAN 1 Selong Cemas dengan Imbas Aldi Irpan

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Belum hilang dari ingatan publik kasus Aldi Irpan, siswa kelas XII SMA Negeri 1 Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, yang menggugat pihak sekolahnya karena tidak diluluskan pada Ujian Nasional (UN).

Kepala MAN 1 Selong, Nurul Wathoni.

Gugatan Aldi melalui Ombudsman RI Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) itu akhirnya membuat pihak SMAN 1 Sembalun tak berkutik dengan rekomendasi Ombudsman yang meminta pihak sekolah meluluskan Aldi dan pihak sekolahpun benar-benar harus menjilat ludah sendiri dengan merubah keputusan yakni menyatakan Aldi diluluskan.

Aldi dan keluarga serta semua pihak yang mendukung Aldi ikut mengapresiasi perubahan keputusan itu. Tapi tidak bagi beberapa kepala sekolah tingkat SLTA (SMA/SMK/MA) negeri maupun swasta di Kabupaten Lombok Timur. Perubahan keputusan terhadap Aldi itu nampaknya akan menyisakan kecemasan akan imbas yang mungkin terjadi di sekolah lain.

Salah satu sekolah tingkat SLTA di Lombok Timur yang mengungkap rasa kekhawatirannya disampaikan oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Selong, Nurul Wathoni. Ditemui di Madrasahnya, Rabu kemarin (29/5), Nurul Wathoni mengaku sangat khawatir dengan kemungkinan imbas yang akan terjadi di sekolahnya.

Wathoni menyebut tidak mustahil masa yang akan datang kasus serupa akan ditiru  siswa terutama wali murid jika ada yang putra putrinya tidak lulus. ‘’Kami khawatir ini ke depan akan ditiru oleh siswa atau wali murid jika ada siswa kami yang tidak layak lulus,’’ keluh Wathoni.

Pria yang baru satu tahun pelajaran menjabat Kepala MAN 1 Selong ini menyatakan, sangat menyayangkan adanya pihak lain yang mengintervensi keputusan sekolah. Karena keputusan lulus atau tidaknya siswa itu adalah menjadi tanggung jawab pihak sekolah itu sendiri. ‘’Kasus ini akan menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan kita,’’ ujarnya.

Nurul Wathoni mengaku di satu sisi sangat mengapresiasi profil Aldi yang konon siswa yang kritis jika benar seperti yang dikabarkan. Namun di sisi lain tak mustahil yang bersangkutan ada penilaian lain yang membuat pihak sekolah memutuskan tidak layak untuk diluluskan.

Pria jebolan Pondok Pesantren Darunnajihin NW Bagek Nyale, Sakra Barat ini menyatakan, penentuan kelulusan siswa tidak hanya dinilai unsur akademisnya saja, namun lebih dari itu juga adalah unsur prilaku siswa.

Sebab katanya, bisa saja ada siswa yang prestasi akademiknya bagus namun prilaku atau moralnya yang rendah. Maka siswa yang demikian tidak layak untuk diluluskan. ‘’Bagaimana nanti jika ada fakta yang demikian terjadi di sekolah lain, tentu ini akan lain ceritanya,’’ ucapnya.

Untuk itu, Kepala MAN 1 Selong mengharapkan kepada masyarakat terutama para wali murid agar jangan hanya bangga dengan prestasi akademis putra putrinya namun lebih dari itu perlu sama-sama mengontrol moral atau prilaku anak. ‘’Soal tabiat anak tidak hanya tanggung jawab sekolah saja namun lebih dari itu menjadi domain para orang tua,’’ katanya.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply