Akibat Kematangan Emosi yang Belum Stabil

Oleh: Sri Yunita Mauliza |

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Akhir-akhir ini marak terjadinya kekerasan pada siswa SMA, hal ini dipicu oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah kematangan emosi. Mengapa kematangan emosi dikatakan sebagai salah satu faktornya? Apabila kematangan emosi pada usia remaja SMA berkembang dengan baik, maka ia akan dapat mengendalikan emosinya.

Begitu sebaliknya, jika kematangan emosinya tidak berkembang dengan baik, maka hal ini menjadi pemicu utama terjadinya tindakan kekerasan. Hal itulah yang menjadikan kematangan emosi berperan sangat penting.

Kekerasan yang dilakukan oleh siswa saat ini, sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi di telinga masyarakat. Seperti halnya yang sedang hangat dibicarakan di media yaitu adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa SMKN 3 Yogyakarta pada Februari 2019. Siswa tersebut berani menentang dan mendorong gurunya.

Hal ini terjadi karena siswa tidak dapat mengendalikan diri dan emosinya ketika telepon seluler miliknya disita sementara oleh sang guru, saat akan mengikuti ulangan di kelas. Dalam peristiwa ini, dapat terlihat bahwa penyebab terjadinya kekerasan oleh siswa adalah faktor kematangan emosi dan ketidakmampuan siswa dalam mengendalikan diri dan emosinya yang belum stabil. Apabila hal serupa tidak segera ditindaklanjuti nantinya dikhawatirkan akan menimbulkan peristiwa yang lebih parah lagi.

Dapat dilihat dari peristiwa yang terjadi baru-baru ini, bahwa kecenderungan sikap remaja SMA itu bersikap agresi, pasti timbul pertanyaan dibenak kalian apa itu sikap agresi? Sikap agresi ialah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan tingkah laku tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang disakiti bukanlah orang yang harus menerima balasan atas perilakunya. Namun, setiap makhluk hidup memiliki dorongan agresi yang bersifat naluriah sebagai bentuk untuk mempertahankan diri.

Sikap agresi ini mengakibatkan timbulnya kondisi yang memperihatinkan, karena meresahkan banyak pihak. Sikap agresi terjadi karena beberapa faktor, di antaranya faktor internal dan eksternal. Yang mana faktor internal ialah gangguan pengamatan tanggapan, gangguan berpikir, dan gangguan perasaan atau emosional individu.

Sedangkan dalam faktor eksternal ialah lingkugan dan orang-orang di sekitarnya. Sehingga dapat  diketahui  apabila emosi seorang remaja sudah matang dengan baik, ia akan mampu mengontrol diri dan emosinya, dengan mengendalikan luapan emosinya. Hal ini meminimalisir perilaku agresi untuk tidak sering muncul.  Namun, apabila yang terjadi sebaliknya ia tidak akan dapat mengontrol emosinya, perilaku agresi yang dilakukan bisa jadi dalam bentuk kekerasan bahkan hingga pembunuhan.

Seperti halnya yang kita lihat saat ini, maraknya kekerasan yang terjadi di kalangan remaja khususnya di lingkungan sekolah dapat disebabkan oleh kematangan emosi yang kurang baik. Sehingga peran orang-orang dewasa di lingkungan sekitar sangat dibutuhkan, salah satunya dengan cara menanggapi perilaku agresi yang ada secara bijak.

Perilaku agresi dapat dikurangi mulai dari diri sendiri yaitu dengan mengontrol emosi dan menyadari kapan perilaku tersebut boleh tidaknya untuk dilakukan. Dengan begitu, remaja usia SMA akan memiliki pertimbangan sebelum melakukan suatu tindakan tertentu. Sehingga tentu saja emosinya akan lebih terkontrol dan perilaku agresi tersebut kecil kemungkinan akan terjadi.

Selain itu, mengurangi perilaku agresi juga dapat dengan melakukan katarsis, pasti kalian bertanya bagaimana katarsis itu? Katarsis ialah pengalihan kepada objek lain dengan mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang relatif aman, seperti dengan berteriak-teriak di ruang kosong.

Pengekspresian ini ditujukan agar tingkat agresi yang terjadi tidak dalam bentuk kekerasan yang berbahaya. Namun, efek dari katarsis ini hanyalah bersifat sementara. Sehingga tidak dapat dijadikan solusi permanen bagi perilaku agresi.

Solusi tersebut hanya bersifat sementara, sedangkan negara kita ialah negara hukum, jika tindakan kekerasan sudah banyak meresahkan dan mengkhawatirkan banyak pihak, solusi yang sangat tepat ialah dengan memberikan hukuman pada pelaku kekerasan. Pemberian hukuman juga harus sebanding dengan tindak kekerasan yang dilakukan, dengan syarat tertentu yaitu menerima konsekuensinya. Namun nyatanya, tingkat efektivitas hukuman sangat kecil. Karena jarang sekali syarat-syarat tersebut dapat terpenuhi.

Sehingga, peranan lingkungan merupakan salah satu hal yang juga ikut menentukan seberapa efektiv cara-cara tersebut dalam mengurangi perilaku agresi. Oleh karena itu, lingkungan sekitar juga harus mengetahui apa yang harus dilakukan demi mendukung pengurangan perilaku agresi tersebut. Karena apabila tidak ada dukungan dari lingkungan sekitar, maka perilaku agresi itu akan sulit untuk hilang. Namun, kemungkinan untuk berkurangnya perilaku agresi tersebut pasti ada. Meskipun dengan kemungkinan yang sangat kecil.

Cara-cara ini dapat diterapkan untuk mengurangi perilaku agresi yang banyak terjadi beberapa waktu ini. Yang mana hal tersebut disebabkan oleh kematangan emosi remaja yang kurang baik. Dengan mengetahui hal-hal ini, diharapkan perilaku-perilaku agresi di kalangan remaja khususnya para siswa tidak terjadi lagi. Dari sinilah kita semua sebagai seorang pelajar yang berpendidikan, harus mampu mengontrol emosi dan diri sendiri agar terhindar dari sikap agresi, dimana yang sudah dijelaskan tadi bahwa sikap agresi tidak hanya merugikan diri sendiri melainkan juga merugikan banyak orang di sekitar kita.

Untuk kalangan orang tua, guru, dan pengajar lainnya dan masyarakat pada umumnya diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi sikap argesi yang terjadi dan sebisa mungkin untuk dapat membantu meminilalisir terjadinya sikap agresi, Agar peristiwa-peristiwa akibat sikap agresi yang terjadi belakangan ini tak terulang kembali, dan mereka pelajar SMA mulai sekarang harus bisa mengontrol emosi dan dirinya sendiri.(*)

Kirim Komentar

Leave a Reply