Pertautan Psychology dan Psychopath dalam Perspektif Masyarakat

Oleh: Devia Mustafida |

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Di kalangan umum mungkin terdengar asing bahasa psychopath dan psychology, bahkan ada yang beranggapan bahwa Psychopath termasuk ke dalam psychology, ada juga yang beranggapan bahwa psychopath sama dengan psychology.

Namun sebenarnya semua anggapan tersebut tidaklah benar. Bahwasannya secara garis besar psychology adalah ilmu kejiwaan, lalu menurut beberapa ahli psychology mengartikan psychology itu berbeda-beda seperti halnya yang dikatakan oleh tokoh psychology Gordon Allport (1985) psychology adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku, seseorang yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara nyata atau aktual, dalam bayangan atau imajinasi dan dalam kehadiran yang tidak langsung.

Menurut pandangan secara umum psychology adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang proses mental, kejiwaan, kepribadian seorang individu. Dalam dunia psychology terdapat beberapa gangguan psikologi diantaranya secara umum adalah depresi, skizofrenia, kecemasaan berlebihan, psychopath dan lainnya.

Pasti timbul di benak kalian apa itu depresi ? kecemasan berlebihan ? psychopath ? dan skizofrenia ? jadi depresi ialah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif pada pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang, lalu kecemasan berlebihan ialah sebuah gangguan kecemasan tingkat berat dimana seseorang kerap mengalami kekhawatiran dan ketakutan secara berlebihan dan terus menerus, sedangkan skizofrenia ialah merupakan gangguan jiwa yang umum terjadi dengan karakteristik adanya kerusakan dan keanehan pada presepsi, emosi, pergerakan dan perilaku, nah yang lebih menarik lagi apa itu psychopath? Apakah psychopath itu sama dengan psychology?

Psychology jelas berbeda dengan psychopath, sudah terlihat jelas pada pengertiannya bahwa psychology ialah ilmu yang mempelajari perihal mental, jiwa dan kepribadian seseorang sedangkan psychopath ialah salah satu gangguan psikologis, lebih jelasnya psychopath berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit, psychopath merupakan suatu kelainan psikis yang mengerikan, mengapa dikatakan mengerikan?

Sebab dalam ilmu kedokteran psychopath adalah suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi, perilaku yang anti sosial, implusif, tidak mengikuti atau mengabaikan norma dalam masyarakat, serta tidak memiliki rasa takut ataupun bersalah.

Dalam dunia masyarakat banyak yang mengecap bahwa psychopath itu sebagai pembunuh berdarah dingin, pelaku pemerkosaan keji atau karakter jahat yang gemar menyiksa orang yang tidak bersalah, seperti halnya diperlihatkan dalam film We Need to Talk About Kevin (2011) di mana terdapat seorang anak laki-laki yang bernama kevin ia menjadi seorang psychopath dikarenakan memiliki pengalaman yang suram pada masa kecilnya, yaitu diperlakukan kasar oleh orang tuannya sendiri hingga pada saat ia dewasa ia menjadi seorang yang keji tega membunuh teman–temannya yang tidak bersalah.

Selain itu, juga dapat dilihat dalam film Fifty Shades of Grey,Fifty Shades Freed  hingga Fifty Shades Darker yang diceritakan oleh seorang laki-laki bernama Mr. Grey ia menjadi seorang psychopath karena memiliki pengalaman yang suram juga pada masa kecilnya yaitu pernah dijadikan budak seks oleh teman dari ibunya sendiri hingga akhirnya pada masa dewasa ia menjadi seorang pemerkosa yang sangat keji, yang tak kalah menariknya lagi diperlihatkan dalam film Orphan (2009) dalam film ini diceritakan seorang wanita bernama Esther yang memiliki wajah layaknya gadis kecil namun sebenarnya ia sudah berumur 33th, ia adalah seorang psychopath yang berjiwa pembunuh hingga keji membunuh anggota keluarga yang mengadopsinya.

Dari film-film tersebut dapat dikatakan bahwa kecenderungan seseorang mengalami psychopath yaitu memiliki pengalaman yang suram pada masa kecilnya, bisa jadi itu yang membuat seorang tersebut menjadi seseorang yang anti sosial, karena masa lalunya yang suram membuat ia tidak ada ketertarikan pada dunia sosial bahkan cendrung menarik diri dari lingkungan sosial.

Lalu sikap apa yang harus dilakukan untuk menghadapi seorang yang menderita psychopath ? Dalam pschology terdapat teori psychology yang di ungkapkan oleh Freud yaitu teori yang menjelaskan tentang sebuah model pengembangan kepribadian dengan pendekatan psikoterapi. Muncul pertanyaan, bagaimana sih pendekatan psikoterapi itu? Psikoterapi adalah sebuah pendekatan yang dilakukan secara psikologisnya dengan menggunakan metode konseling, pendekatan ini disebut juga pendekatan behavioristik dimana menurut Steven Jay Lynn dan John P.Garske (1985) mengemukakakn bahwa asumsi terbesar dalam pendekatan behavioristik adalah memiliki konsentrasi pada proses perilaku, menekankan dimensi waktu here and now, melakukan penetapan tujuan pengubahan perilaku, menekankan nilai secara empiris dan didukung dengan berbagai teknik dan metode.

Pendekatan behavioristik mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol yang terbatas jadi peran pendekatan behavioristik dalam proses konseling ini ialah membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi, perilaku yang dapat diamati merupakan kriteria pengukuran keberhasilan konseling, dalam konsep behavior perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi belajar, sedangkan proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk  membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk menghadapi seorang yang menderita psychopath ialah dengan melakukan konseling dengan konselor tersebut secara behavior, dalam melakukan konseling  kita harus memberikan layanan kepada individu tersebut dengan cara melakukan pendekatan secara behavioristik. Mengapa demikian? Karena, pendekatan dalam layanan konseling merupakan suatu strategi untuk memberikan intervensi kepada konseli.

Tujuan yang dicapai adalah perubahan pada konseli untuk menerima diri (self-acceptance), memahami diri (self-understanding), menyadari diri (self-awareness), mengarahkan diri (self-directing), dan aktualisasi diri (self-actualitatio, pendekatan  behavioristik menekankan pentingnya lingkungan dalam proses pembentukan perilaku, pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan tingkah laku salah yang tidak sesuai, tidak sekedar mengganti simptom yang dimanifestasikan dalam tingkah laku tertentu.

Dengan pendekatan behavior diharapkan konseli memiliki tingkah laku baru yang terbentuk melalui proses conditioning, hilangnya simptom dan mampu merespon stimulus yang dihadapi tanpa menimbulkan masalah baru.(*)

Kirim Komentar

Leave a Reply