NTB Jadi Tuan Rumah 13rd South East Biosphere Reserve Network

Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah didampingi Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB, Najamuddin Amy, saat menghadiri acara agenda sidang hari pertama The 31st Session of the Man and the Biosphere Programme International Coordinating Council, di Paris, Prancis, Senin (17/6).

PRANCIS, LOMBOKTODAY.CO.ID – Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB, Najamuddin Amy, menjadi salah satu dari lima pimpinan delegasi yang mewakili Indonesia dalam agenda sidang hari pertama The 31st Session of the Man and the Biosphere Programme International Coordinating Council, di Paris, Prancis, Senin (17/6).

Selain wagub NTB, empat delegasi lain yang hadir adalah Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian LHK, Wiratno; Ambassador of Permanent Delegation of the Republic of Indonesia to UNESCO, H.E. Mr Surya Rosa Putra; Direktur Eksekutif Indonesian MAB Programme National Committee, LIPI, Prof. Y Purwanto; dan Gubernur Sulawesi Tengah, H Longki Djanggola.

Salah satu hasil dari agenda hari pertama dari pertemuan itu adalah ditunjuknya Provinsi NTB sebagai tuan rumah untuk agenda 13rd South East Biosphere Reserve Network.

NTB saat ini memiliki 2 cagar biosfer yaitu Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan Kawasan Samota di Pulau Sumbawa. Berdasarkan hasil pertemuan itu, Najamuddin mengatakan bahwa 2 cagar ini dianggap penting karena menjadi laboratorium untuk pembangunan berkelanjutan dengan memberdayakan komunitas lokal, untuk menghadapi tantangan global.

‘’Catatan tersebut juga relevan untuk NTB yang saat ini sudah resmi memiliki dua cagar biosfer. Tentu saja kita berharap bahwa dua cagar biosfer ini bisa memberikan dukungan bagi NTB untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals),’’ kata Najamuddin, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mataraminside.com, Selasa (18/6).

Pada pertemuan itu juga, kata Najamuddin, disebutkan tiga karakteristik utama dari cagar biosfer. Salah satunya adalah, mencapai tiga fungsi yang saling berkaitan, yaitu fungsi konservasi, fungsi pembangunan dan pemasok kebutuhan pokok. Cagar biosfer juga dicirikan dengan adanya upaya untuk melampaui zona konservasi tradisional yang biasanya hanya bersifat terbatas. Upaya ini dibangun melalui skema zonasi yang diselaraskan. Menggabungkan area inti yang dilindungi dengan zona di mana pembangunan berkelanjutan dipupuk oleh penduduk lokal dan perusahaan dengan sistem tata kelola yang sering sangat inovatif dan partisipatif.

’’Cagar biosfer juga akan melibatkan pendekatan melalui para pemangku kepentingan yang beragam, dengan penekanan pada keterlibatan komunitas lokal dalam tata kelolanya. Saat ini, terdapat 686 cagar biosfer di 122 negara di seluruh dunia,’’ ujarnya.

Mengutip hasil pertemuan itu, Najamuddin mengatakan bahwa cagar biosfer adalah perangkat untuk mencegah ancaman berkurang atau punahnya spesies-spesies yang menjadi khazanah kekayaan bumi.

‘’Kami berpendapat, pertemuan itu sangat selaras dengan visi-misi dan program-program pasangan Gubernur dan Wagub NTB, H Zulkieflimansyah-Hj Sitti Rohmi Djalillah. Insya Allah ini menjadi bukti bahwa saat ini NTB sedang berada di jalur yang tepat untuk menjadi daerah yang berkembang, tanpa harus merusak keseimbangan alam dan manusia,’’ katanya.(dra)

Kirim Komentar

Leave a Reply