Pesona Figur Baru Diprediksi Calon Kuat Libas Petahana

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Meskipun tahapan gelaran Pilkada serentak 2020 baru dimulai September 2019, akan tetapi aroma kompetisinya sudah terasa getarannya. Sejumlah wajah baru calon kepala daerah mulai tebar pesona sekaligus melakukan psy-war politik.

Bambang Mei Finarwanto.

Sebagai pendatang baru, mereka digadang-gadang punya kans kuat menaklukan power politik petahana. Hal ini tentu terkait  kemampuan resources para figur baru tersebut diprediksi memperoleh dukungan nyata, baik yang maju lewat jalur parpol maupun independen.

Terlepas dari hal itu, Lembaga Kajian Politik M16 memandang Pilkada serentak 2020 mendatang merupakan adu kuat pertarungan gengsi, marwah Parpol dan Independen di arena kompetisi Pilkada.

Direktur Lembaga Kajian Politik M16, Bambang Mei Finarwanto mengatakan, konstelasi perolehan suara Pileg 2019 setidaknya menjadi trigger dengan munculnya figur baru calon kepala daerah.

Sebagaimana diketahui, hasil pemilihan legislatif di NTB untuk DPRD Provinsi NTB dari 55 anggota DPRD NTB periode 2014-2019 hanya menyisakan 14 incumbent (petahana), sisanya 41 pendatang baru.

Demikian pula hasil akhir rekapitulasi suara DPR RI Dapil NTB II/Pulau Lombok menyisakan empat incumbent serta empat  pendatang baru. Sementara perolehan suara DPR RI Dapil NTB I/Pulau Sumbawa menyisakan satu incumbent, dua muka baru. Sedangkan untuk kuota empat anggota DPD RI Dapil NTB yang terpilih satu incumbent dan tiga pendatang baru.

‘’Bahkan caleg pendatang baru dari Partai Gerindra, H Bambang Kristiono menempati rangking 1dan Partai Gerindra nyaris memperoleh dua kursi di Dapil NTB II/Pulau Lombok,’’ kata Direktur Lembaga Kajian Politik M16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Selasa (18/6).

Bambang Mei mengatakan, berhembusnya angin perubahan (April Spring) dalam Pileg 2019 ini menjadi salah satu alasan dengan tampilnya figur baru calon kepala daerah. Bahkan ada  keyakinan  bahwa posisi politik dan power petahana tidak lagi  istimewa dan superior.

‘’Jika di era Pilkada sebelumnya ada hegemoni pikiran (persepsi)  yang ditanamkan tentang kedigdayaan petahana yang menimbulkan phobia. Justru saat ini di mata figur baru menjadi spirit untuk best of the best,’’ ujarnya.

Ia menilai munculnya the rising start calon kepala daerah yang baru akan membuat fragmentasi dukungan loyalis votters yang justru menambah daya pesona Pilkada serentak 2020 karena kekuatan kandidat tersebar merata dan memiliki probabilitas menang yang sama.

Bambang Mei yang akrab disapa Didu ini menjelaskan, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi rivalitas pertarungan power politik antara kekuatan Parpol melawan independen.

Bagi Parpol, Pilkada 2020 merupakan momentum politik yang harus dimenangkan sebagai upaya persiapan perebutan kursi Gubernur NTB 2023 mendatang.

‘’Jika calon parpol memenangkan semua Pilkada 2020, maka Pilgub 2023 menjadi ringan karena infrastruktur politik  di kabupaten/kota sudah dikuasai,’’ katanya.

Sementara dengan munculnya calon independen (perseorangan) harus dipahami dalam konteks sebagai antitesa atas dominasi parpol dalam setiap kontestasi demokrasi. Selain itu, dalam pentas Pilkada 2020, Parpol diprediksi akan mengusung kadernya sendiri untuk memastikan loyalitas ideologinya terhadap Parpol yang mengusungnya jika kelak terpilih sebagai kepala daerah.

‘’Di sini calon kepala daerah yang tidak diendors Parpol akan banyak maju dan menggantungkan harapannya lewat jalur  independen agar bisa terlibat kompetisi,’’ ujarnya.(red)

Kirim Komentar

Leave a Reply