Relokasi Warga Semerang, Jerowaru Masih Terkendala Lahan

Bupati Lotim, HM Sukiman Azmy didampingi Camat Jerowaru, Jumase beserta Kepala Desa Seriwe, Hudayana, saat terjun langsung dan bertemu dengan 16 KK yang tereksekusi guna memberikan solusi.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Setelah 3 tahun terkatung-katung, akhirnya 16 kepala keluarga (KK) korban sengketa lahan di Dusun Semerang, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, kini mendapat perhatian serius dari Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy.

16 KK tersebut terpaksa harus merobohkan bangunan rumahnya akibat lahan perkampungan yang sudah ditempatinya puluhan tahun itu telah lama menjadi sengketa hingga ke meja hijau.

Lahan seluas 1,5 hektare yang terletak di pinggir selatan Dusun Semerang, tepatnya di jalur menuju Tampah Bole itu, sudah inkrach (berkekuatan hukum tetap) sejak 3 tahun lalu dan dimenangkan oleh penggugat. Namun, warga yang menempatinya belum meninggalkan lokasi lantaran 16 KK itu kebingungan mencari lahan yang tak jauh dari lokasi semula. Dan tentunya hal itu mereka harus memikirkan pula apa biaya untuk membangun rumah baru.

Menyikapi persoalan tersebut, Bupati Sukiman didampingi Camat Jerowaru, Jumase beserta Kepala Desa Seriwe, Hudayana, Kamis (27/6), terjun langsung dan bertemu dengan 16 KK yang tereksekusi guna memberikan solusi.

Bupati Sukiman menyatakan siap membantu masing-masing KK 1 are lahan sebagai tempat membangun rumah baru di lokasi yang tidak jauh dari lokasi semula. Warga pun menyambut gembira kebijakan Bupati Sukiman itu.

‘’Apa boleh buat, terpaksa harus merobohkan rumah kami karena kami kalah di pengadilan dalam sengketa lahan yang sudah puluhan tahun kami tempati ini,’’ keluh salah seorang warga yang tereksekusi dari lahan yang sudah inkrach di tingkat kasasi sejak 3 tahun lalu.

Solusi bijak Bupati Sukiman ini ternyata masih menyisakan kendala. Pasalnya, lahan relokasi yang dijanjikan orang nomor satu di Bumi Patuh Karya itu ternyata belum didapatkan. Rencana lokasi yang akan dibayar bupati itu masih belum ada titik terang dari pemilik lahan.

Camat Jerowaru, Jumase, yang dihubungi Lomboktoday.co.id via sambungan telepon Jumat malam (28/6) menuturkan, pihaknya telah mencoba mendatangi pihak yang menguasai lahan yang akan dibebaskan itu. Namun pihak yang kini menempati lahan mengaku bukan pemilik asli. Akan tetapi disebutkan yang menempati lahan sekarang statusnya adalah penggarap. Sedangkan pemilik asli bukan satu orang dan konon ada yang berdomisili di Mataram dan ada yang berdomisili di Lombok Tengah.

‘’Inilah yang menjadi kendala kami bersama Kades Seriwe setelah mendatangi orang yang menempati lahan yang akan kita bebaskan itu,’’ kata Camat Jerowaru, Jumase, seraya menambahkan ia belum berani lapor ke Bupati karena harus mencari lahan alternatif.

Camat menjelaskan, ia diperintah oleh Bupati untuk mencari lahan tersebut dengan harga yang dipatok Bupati sebesar Rp10 juta per are, sehingga dibutuhkan lahan hanya 16 are untuk 16 KK yang tereksekusi.

Sementara itu, menurut camat, 16 KK yang akan direlokasi ini tidak ingin pindah ke lokasi yang jauh dari kampung semula sesuai janji bupati agar hubungan kekeluargaan dan kekerabatan mereka tidak terpisah.

‘’Kami bersama Kades Seriwe masih mencarikan lahan yang tepat dan disetujui oleh 16 Kk tersebut. Dan tentu yang cocok dengan plapon harga yang dipatok Bupati,’’ ujarnya.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply