Perang Aktivis di Balik Wacana KLS

Andra Ashady (kiri) dan Sayadi (kanan).

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Buntut dari pemberitaan di media ini sebelumnya yang berjudul ‘KLS Masih di Persimpangan Jalan’, ternyata menimbulkan pro-kontra di kalangan aktivis yang ada di Kabupaten Lombok Timur.

Sehari pasca-termuatnya pemberitaan di situs Lomboktoday.co.id, terjadi pertemuan yang tidak disengaja Ketua Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) Andra Ashady dengan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sayadi, di sebuah kafe di kawasan Kota Selong, Jumat (5/7).

Kedua aktivis ini terlibat dalam perdebatan sengit soal wacana pembentukan Kabupaten Lombok Selatan (KLS). Dalam perdebatan tersebut disaksikan oleh sejumlah awak media Kabupaten Lombok Timur termasuk wartawan media ini. Karena terjadi pro-kontra di antara mereka, tentu saling mempertahankan argumentasi masing-masing.

Menurut Andra Ashady selaku pihak yang kontra terhadap wacana KLS, mengaku pesimis KLS akan bisa terwujud. Sikap pesimis Ketua LARD NTB ini bukan tanpa alasan. Andra Ashady memaparkan alasan kuat sehingga menyebut KLS kecil kemungkinan bisa terwujud.

Selain karena Presiden Joko Widodo belum mau mencabut Moratorium Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), juga adanya hasil evaluasi pemerintah pusat seperti pernyataan Kapuspendagri M Bakhtiar yang menyebut bahwa dari 223 DOB yang terbentuk dalam kurun waktu 1999-2014 hanya 33% yang mampu memenuhi harapan.

‘’Malah sebaliknya, pemerintah pusat lebih berpikir penggabungan kembali DOB yang lemah itu ketimbang mencabut Moratorium, buru-buru yang baru akan mengajukan usul,’’ kata Andra.

Alumni Fakultas Hukum salah satu perguruan tinggi swasta di Lombok Timur ini menilai Bupati Lombok Timur dianggap sia-sia dan akan menghabiskan anggaran saja untuk membentuk komite. ‘’Ini namanya buang-buang anggaran, bubarkan saja komite itu, dan audit penggunaan anggaran yang diberikan dari APBD Kabupaten Lombok Timur,’’ ujar Andra.

Kendati pria yang banyak malang melintang memimpin berbagai aksi demo ini mengaku bukan tidak setuju wacana pemekaran daerah, namun dirinya menyoroti sisi tipisnya peluang kemungkinan pemerintah pusat mengabulkan pemekaran daerah.

‘’Saya setuju pemekaran daerah ini. Dan saya juga berasal dari Kecamatan Sikur yang notebene akan masuk ke wilayah pemekaran, namun saya melihat kemungkinan yang sangat tipis sehingga saya meminta komite dibubarkan saja,’’ kata Andra.

Semua argumentasi yang dipaparkan Ketua LARD NTB itu langsung mendapatkan bantahan dari Ketua AMAN NTB, Sayadi. Selaku orang yang pro terhadap wacana KLS, tentu Sayadi berusaha mengeluarkan argumentasi penolakan terhadap pandangan yang dikemukakan salah satu rekannya sesama aktivis itu.

Menurut Sayadi yang juga terlibat pada salah satu unsur dalam komite KLS menyebut peluang terbentuk DOB ini masih ada. Hanya tinggal menunggu waktu presiden mencabut Moratorium sehingga pihak komite KL gencar melakukan berbagai persiapan untuk melengkapi persyaratan.

‘’Kami tahu bahwa Moratorium belum dicabut, tapi kita persiapkan segala persyaratan sehingga begitu kerannya dibuka, kita langsung masuk mendaftar,’’ urai Sayadi.

Sayadi meminta kepada semua pihak untuk tetap optimis dan tidak mengganggu semangat dengan mengeluarkan pernyataan dan terlalu dini bersikap pesimis. ‘’Mari kita optimis dan jangan terlalu cepat pesimis,’’ harapnya.

Pria yang masih satu almamater dengan Andra Ashady juga berharap agar masyarakat memberikan kesempatan untuk berbuat. ‘’Mari kita beri kesempatan komite untuk berbuat dan berupaya dengan sekuat tenaga penuh rasa optimis sampai berhasil. Kalaupun nanti komite kembali gagal, saya sendiri siap pasang badan menuntut pertanggung-jawaban komite,’’ ujarnya.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply