Prof Ronald Harris Minta Maaf karena Ungkap Potensi Gempa Magnitudo 8,5 di Lombok

Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ronald A Harris.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ron A Harris meminta maaf kepada masyarakat Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) atas statemennya mengenai hasil penelitian potensi gempa di selatan Lombok, sehingga membuat rasa takut masyarakat.

‘’Saya minta maaf atas rasa takut yang disebabkan presentasi saya terkait dengan hasil penelitian kami,’’ kata Prof Ronald A Harris dalam keterangan tertulis yang diterima Lomboktoday.co.id, di Mataram, Kamis (18/7).

Berdasarkan penemuan mereka di lapangan, palung Jawa sampai saat ini memang belum melepaskan energi yang sudah terkumpul selama 500 tahun. Sedikitnya gempa bumi besar selama kurun waktu tersebut menandakan bahwa ada kemungkinan munculnya gempa besar dengan magnitudo 8 dan mungkin 9.

‘’Banyak yang bertanya kapan?, tapi itu adalah pertanyaan yang salah untuk gempa bumi karena tidak mungkin ada yang bisa mengetahui kapan pastinya,’’ ujar Prof Ronald A Harris.

Karena ia hanya ingin memberi tahu bahwa potensi gempa bumi di palung Jawa ini memanjang dari Sumatera di Barat sampai Sumba di Timur. Jadi, belum tentu episenter gempa yang dimaksudkan akan terjadi di Lombok. Dan ia hanya bisa memperkirakan di mana dan seberapa besar magnitudo gempanya berdasarkan catatan sejarah dan rekaman geologi yang pernah terjadi sebelumnya.

Karena itu, Prof Ronald A Harris berharap kepada masyarakat Lombok untuk lebih berfokus pada kesiapsiagaan. ‘’Sebenarnya maksud kedatangan kami ke Lombok tak lain untuk membantu masyarakat agar paham risiko dan mengajak untuk meningkatkan kesiapsiagaan,’’ kata dosen di Brigham Young Univesity, Utah, Amerika Serikat ini.

Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan sekarang, yakni menghentikan pembangunan dengan material yang tidak bagus. Artinya sebaiknya gunakan kayu. ‘’Tidak satu pun atau sedikit bangunan yang berbahan dasar kayu rusak karena gempa-gempa pada tahun 2018 di Lombok. Selain itu, amankan barang-barang yang kemungkinan dapat menimpa anda ketika terjadi gempa,’’ ujarnya.

Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan pantai, ia menganjurkan agar masyarakat untuk menerapkan prinsip 20-20-20. Artinya, ketika merasakan gempa selama lebih dari 20 detik, meskipun tidak besar gempanya, anda harus mengevakuasi diri setelah gempa berhenti. Kemungkinan besar tsunami akan tiba dalam waktu 20 menit setelah gempa dan kemungkinan ketinggian tsunami akan mencapai 20 meter. Jadi, harus mengevakuasi diri ke tempat yang tinggi atau gedung tinggi yang minimal ketinggiannya 20 meter. ‘’Andai saja masyarakat Aceh pada tahun 2004 lala memahami prinsip 20-20-20, kemungkinan ribuan nyawa dapat terselamatkan,’’ ucapnya.

Jadi, masyarakat harus dilatih cara untuk mengenali tanda-tanda alam agar bisa menentukan kapan untuk evakuasi mandiri. ‘’Saya berharap ini dapat menjadi bagian dari solusi untuk pencegahan bencana. Ini adalah tanggungjawab bersama. Potensi gempa bumi dan tsunami dari palung Jawa tidak lah baru. Saya meminta maaf sekali lagi kalau pemaparan saya mengejutkan banyak pihak, tetapi lebih baik masyarakat tahu sehingga bisa mempersiapkan diri. Mari tumbuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan mengurangi rasa takut dan membuat kita semakin tangguh,’’ ujarnya.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply