Zamroni Imbau Kepala Madrasah Jadi Pionir Tangkal Radikalisme

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kemenag Provinsi NTB, H Zamroni Aziz (dua dari kiri).

BIMA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kemenag Provinsi NTB, H Zamroni Aziz mengimbau kepada seluruh kepala madrasah yang ada di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu untuk menjadi pionir dalam menangkal radikalisme. Hal ini penting mengingat akhir-akhir ini tindakan radikalisme dan sejenisnya itu sudah mulai merambah hingga pelosok-pelosok kampung di daerah ini.

‘’Itu sebabnya kami memandang perlu mengadakan kegiatan selama tiga hari mulai dari Rabu-Jumat (17-19 Juli 2019) dengan tema ‘Penguatan Pendidikan Karakter, Deradikalisasi Wawasan Keagamaan dan Moderasi Islam bagi Kepala Madrasah, Guru dan Pengawas Madrasah’ di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu,’’ kata Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Kabid Penmad) Kanwil Kemenag NTB, H Zamroni Aziz saat dihubungi Lomboktoday.co.id, Kamis (18/7).

Dalam kegiatan ini, kata Zamroni, setidaknya ada 3 (tiga) variabel kunci yang bias didiskusikan, yakni; pendidikan karakter, deradikalisasi wawasan keagamaan, dan moderasi Islam.

Keseluruhan variabel tersebut menjadi peran dan tanggung jawab guru, kepala madrasah, dan pengawas untuk mentranspormasi pesan-pesan yang terkandung dalam setiap variabel kepada siswa/siswi madrasah, di samping juga harus menjadi teladan dalam implementasinya setiap hari, baik di lingkungan keluarga, lingkungan madrasah dan masyarakat.

Zamroni mengatakan, untuk pendidikan karakter, itu bisa melalui doktrin keluarga, sehingga guru dan masyarakat memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter siswa.

Selain itu, karakter akan memberikan warna dalam perilaku dan sikap sehari-hari, penguatan karakter menjadi penting karena menjadi basis prinsip dan akan mewarnai setiap keputusan yang diambil oleh sesorang. ‘’Usia sekolah adalah momentum terbaik untuk memperkuat karakter seseorang dan lembaga madrasah memiliki peran strategis dalam proses pengembangannya,’’ ujarnya.

Sedangkan deradikalisasi wawasan keagamaan, bisa dilakukan melalui konsep ‘Islam Rahmatanlil’alamin’. Ini perlu terus dibumikan, sehingga seseorang itu akan lebih arif dalam memandang umat di luar sana guna membangun sikap toleransi yang tinggi.

‘’Prinsip ‘toleransi’ perlu terus dikembangkan sehingga kita tidak terlalu eksklusif, menganggap hanya diri kita yang benar, egois dan mau menang sendiri,’’ ucapnya.

Untuk moderasi Islam, lanjut Zamroni, ini bisa melalui semangat ‘ummatan wasatan’. Hal ini perlu terus ditanamkan, sehingga ummat Islam akan menjadi kekuatan penyeimbang dan mampu membangun relasi dengan semua komponen bangsa serta dapat diterima semua pihak. ‘’Semangat mutual respek (saling menghargai) itu juga penting untuk terus ditumbuh kembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,’’ katanya.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply