Warga Dane Rase Hanya Dapat ‘Bau Kentut’ Pasar Keruak

Camat Keruak, Lalu Kamaruddin.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Sejak direnovasi Pasar Keruak, Kabupaten Lombok Timur, memang merubah wajah komplek pasar yang dulu semerawut kini lebih tertata rapi di sisi depan, namun masih menyisakan masalah di sisi belakang. Masalahnya, bagian belakang pasar, berhadapan langsung dengan perkampungan Dusun Lengaluh, Desa Dane Rase, Kecamatan Keruak.

Di deretan belakang pasar rakyat ini, berjejer pedagang ikan bakulan mulai deretan sisi timur hingga sisi barat pasar. Warga Dusun Lengaluh khususnya yang berumah sederet dengan bagian belakang pasar, mengeluhkan aroma bau busuk yang diduga akibat pembuangan limbah sisa-sisa buangan air bekas ikan terutama ikan basah.

Beberapa warga yang ditemui Lomboktoday.co.id baru-baru ini mengaku sangat terganggu dengan bau busuk di belakang pasar, terutama pada jam pagi hingga jam pasar tutup.

Menurut warga, setiap hari pedagang ikan menumpahkan sisa-sisa air ikan secara sembarangan di sisi belakang pasar. Sementara itu, tidak ada selokan yang bisa mengalirkan air limbah ikan. Ditambah lagi katanya, sisi belakang pasar belum dibuatkan tembok pembatas. ‘’Mulai pagi pukul 07.00 Wita ke atas, kami harus sambil menutup hidung setiap kali keluar rumah,’’ kata salah seorang warga setempat.

Kepala Desa Dane Rase, Syamsuddin.

Secara terpisah, Kepala Desa Dane Rase, Syamsuddin yang dikonfirmasi baru-baru ini membenarkan keluhan warganya itu. Bahkan Kades mengaku, masalah ini sudah lama menjadi keluhan warganya. Hanya saja ia tidak bisa berbuat banyak mengatasi keluhan warganya itu.

Sedangkan lanjut Kades, Desa Dane Rase selaku yang ketempatan dengan keberadaan Pasar Keruak, tidak mendapatkan apa-apa. Sementara diketahuinya ada retribusi dari pedagang pasar, namun desanya tidak kecipratan jatah dari pemasukan pasar kecuali warganya hanya menerima bau busuk limbah pasar.

Menyikapi hal itu, Camat Keruak, Lalu Kamaruddin yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/8) sangat merespon keluhan warga Desa Dane Rase. Bahkan Camat berjanji akan menyampaikan ke pihak Dipenda Lotim selaku pihak yang memiliki tanggung jawab langsung dalam urusan pengelolaan pasar. ‘’Kami tanggapi keluhan warga, dan kami akan mencoba menjebatani untuk menyampaikan ke Dispenda selaku regulator pengelolaan pasar,’’ katanya.

Terkait keberadaan onggokan sampah di wilayahnya, terutama di dua titik yang paling dirasa sangat mengganggu pemandangan yakni di pinggir jalan raya utara Desa Selebung berbatasan dengan Desa Mendana Raya, dan di pinggir jalan raya jurusan Tanjung Luar tepatnya di Desa Montong Belai, camat mengaku tetap berupaya dengan armada yang dimilikinya untuk melakukan pembersihan. Namun katanya, setiap kali pihak kecamatan dan desa membersihkan, masih saja ada warga yang membuang sampah di tempat itu.

Camat Keruak berharap kesadaran warga untuk mau membuat lubang sampah di sekitar rumah dan jika sampah sudah kering bisa dibakar. ‘’Kami setiap saat mengadakan pengangkutan sampah bersama pihak desa. Hanya saja, masih ada warga yang belum sadar. Bahkan kami menduga bukan hanya warga desa setempat saja yang membuang sampah di tempat itu,’’ ujarnya.

Untuk itu, Camat mengimbau pemerintah desa di wilayahnya untuk dilakukan pengadaan lahan sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Seperti yang telah dikoordinasikan olehnya, antara Desa Sepit dan Desa Senyiur beberapa hari lalu. Katanya, Desa Senyiur tidak memiliki lahan untuk TPA, tapi setelah dipertemukan kedua kepala desa tersebut, Kades Sepit bersedia menghibahkan sekitar 2 are dari tanah pecatu desa Sepit yang ada di wilayah Desa Senyiur untuk TPA karena secara kebetulan Desa Senyiur adalah pemekaran dari Desa Sepit.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply