Ternyata, Ada 4 Tokoh Ikut Andil di Balik Maulanasyaikh Peroleh Gelar Pahlawan Nasional

Repleksi Menyambut Proklamasi 17 Agustus 2019

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Warga Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya Nahdliyyin NW (Nahdlatul Wathan) menyambut dengan sukaria ketika mendengar kabar bahwa Guru Besar sekaligus pendiri NW, Almagfurullah Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Bapak Presiden Joko Widodo sekitar awal 2018 lalu yang ditandai dengan penyerahan piagam kepada semua ahli warisnya di Istana Negara Jakarta.

Dr H Muslihun Muslim, MA .

Di balik semua itu, tidak banyak yang tahu siapa yang ikut serta memberikan dorongan kuat sehingga negara tidak ada alasan untuk tidak menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada ulama kharismatik itu.

Selain ratusan tim yang bekerja mencari fakta sejarah tentang kiprah perjuangan Maulanasyaikh, ada beberapa tokoh nasional ikut andil mem-back-up dengan berbagai narasi faktualnya. Di antara 4 tokoh tersebut adalah, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa, M.Si (saat menjadi Menteri Sosial); H Fahri Hamzah, SE (Wakil Ketua DPR RI 2014-2019); Dr Hamdan Zoelva (mantan Ketua MK); Prof Dr Farouk Muhammad (Wakil Ketua DPD RI 2014-2019) dan sejumlah tokoh lainnya.

Bukti dukungan dan dorongan ke-4 tokoh penting itu, tertuang dalam testimoni yang disampaikan oleh masing-masing pada sebuah buku tentang Pahlawan Nasional yang berjudul ‘Maulanasyaikh dari Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk Indonesia’. Buku ini berisi tentang fakta sejarah perjuangan dan pergulatan Maulanasyaikh era 1908-1997. Buku yang diterbitkan oleh Hamzanwadi Institute tahun 2018 lalu, diawali dengan kata sambutan dari Wakil Presiden RI, Dr (HC) Muh Jusuf Kalla dan kata pengantar dari Gubernur NTB saat itu, Dr TGH M Zainul Majdi, MA alias Tuan Guru Bajang (TGB).

Dalam testimoninya, Hj Khofifah Indar Parawansa di antaranya menyebut bahwa Maulanasyaikh memiliki peranan dalam masa revolusi. Dalam hal ini Kementerian Sosial mengapresiasi peranan Maulanasyaikh sehingga layak menjadi Pahlawan Nasional. ‘’Kami dari Kementerian Sosial sangat menerima usulan dari Tim TP2GP,’’ katanya.

Buku kepahlawanan Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Testimoni kedua dari Wakil Ketua DPR RI, H Fahri Hamzah yang menyebut, kehadiran Maulanasyaikh terlalu kuat dan nyata dalam kiprahnya sehingga harus dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Disebut pula, perjuangan di bidang Agama dan Negara hal yang final tidak terbantahkan. Bahkan Fahri mengusulkan dibuat film khusus tentang perjuangan Maulanasyaikh.

Testimoni ke-3 datang dari Hamdan Zoelva. Ia menyebut Maulanasyaikh adalah tokoh yang lengkap dan paripurna. Seorang yang memiliki ilmu tinggi dan mampu mendirikan madrasah sejak usia muda (30 tahun). Seperti diketahuinya, Hamdan Zoelva menyebut, lembaga pendidikan yang dikelola NW di NTB sangat berkembang pesat hingga provinsi lain di tanah air.

Testimoni ke-4 oleh Prof Dr Farouk Muhamad. Dia mengatakan, pahlawan itu tidak hanya orang yang berjuang memikul senjata namun juga orang yang berjuang dengan pendidikan seperti tokoh NTB yang bergelar Maulanasyaih. Terbukti katanya, 40% pendidikan yang ada di NTB berada di bawah naungan NW.

Salah seorang anggota tim penyusun buku dari Hamzanwadi Institute, Dr H Muslihun Muslim, MA kepada Lomboktoday.co.id saat menghadiahkan buku sejarah kepahlawanan Maulanasyaikh kepada redaksi membenarkan bahwa testimoni ke-4 tokoh nasional tersebut adalah sebagai bagian dari dukungan dan dorongan sehingga Maulanasyaikh dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

‘’Betul, selain melalui berbagai penelitian dan berbagai seminar, para tokoh tadi adalah pemberi dorongan dan dukungan untuk penganugerahan gelar Pahlawan Nasional,’’ kata H Muslihun Muslim saat ditemui di sela-sela melakukan visitor sebagai tim assesor akreditasi madrasah di MA NW Sepit, Senin (12/8).

Penyusunan buku setebal 228 halaman ini, kata Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram itu, didukung oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bahkan katanya, prolog buku tersebut dibuat oleh ahli sejarah LIPI Prof Dr Taufik Abdullah.

Muslihun Muslim yang juga Dewan Pengawas Bank NTB Syariah sekaligus Pengurus Wilayah NW NTB itu mengaku dalam kapasitas sebagai assesor dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) NTB tidak lupa saat visitor ke berbagai madrasah sambil membawa beberapa buah buku yang sangat berharga itu untuk disumbangkan ke berbagai madrasah khususnya madrasah NW. Hal itu dimaksudkan sebagai literatur sejarah bagi generasi NW terutama generasi yang umurnya tidak sempat bertemu Almagfurullahu Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply