APGN Berlangsung, Kemenpar Terus Beri Perhatian Pariwisata NTB

Foto bersama usai pembukaan kegiatan Forum Strategis Pariwisata Berkelanjutan di NTB.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI menggelar kegiatan Forum Strategis Pariwisata Berkelanjutan di NTB, Rabu (4/9). Kegiatan itu dihelat di Hotel Lombok Astoria Mataram dengan menghadirkan sejumlah perwakilan organisasi, kepala daerah kabupaten/kota, sejumlah kepala dinas serta stakeholders terkait.

Kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H Lalu Moh Faozal itu dimaksudkan untuk membangun sinergi kebijakan pembangunan pariwisata daerah dan nasional. Termasuk merumuskan program berkelanjutan yang diharapkan mampu memberikan manfaat dan nilai ekonomi, sosial budaya dan lingkungan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Sebab, sebagai salah satu upaya meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian sekaligus menjaga kualitas serta kelestarian atraksi wisata sejak tahun 2015, Indonesia telah mengimplementasikan prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Melalui program berkelanjutan itu, target kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2019 sejumlah 20 juta kunjungan dan pergerakan wisatawan nusantara sejumlah 280 juta. Sehingga, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 4,8%, membuka kesempatan kerja bagi 13 juta orang dan meningkatkan indeks daya saing kepariwisataan dalam 20 besar dunia.

Asisten Administrasi dan Umum Setda Provinsi NTB, Hj Hartina memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Forum Strategis ini. Ia berharap agar dukungan bagi pembangunan kepariwisataan di Provinsi NTB, utamanya Kawasan Mandalika dapat terealisasi dengan baik. Ia juga menyampaikan agar hasil hari ini dapat menjadi masukan bagi penyusunan ITMP di Kawasan Mandalika.

Khusus terkait aspek tenaga kerja, ia menyampaikan agar OPD terkait dapat membuat assessment mengenai jumlah tenaga kerja dan jenis pekerjaan yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan Kawasan Mandalika agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H Lalu Moh Faozal menyampaikan bahwa konsep kepariwisataan berkelanjutan pada dasarnya telah sesuai dengan program Pemerintah Provinsi NTB yaitu Asri dan Lestari serta Sejahtera dan Mandiri. Oleh karena itu, bukan suatu hal sulit bagi NTB untuk bisa menerapkan konsep ini.

Saat ini sedang berlangsung The 6th Asia Pasific Geoparks Network (APGN) Symposium di NTB dan Kemenpar melaksanakan Forum Strategis sebagai wujud perhatian serius pada pengembangan pariwisata berkelanjutan di NTB. Apalagi Mandalika telah ditetapkan Presiden RI sebagai salah satu dari 5 Kawasan Super Prioritas Pariwisata Indonesia.

Kementerian yang dipimpin Arif Yahya ini terus memberikan perhatian kepada pembangunan pariwisata NTB yang berkelanjutan. Satu bentuk penerapan kepariwisataan yang berkelanjutan yang sudah berjalan di NTB adalah salah program 99 Desa Wisata. Program ini merupakan satu program prioritas dari Gubernur tahun 2019 yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata NTB di pasar wisman tradisional maupun non-tradisional seperti Australia yang tumbuh signifikan setelah dibukanya direct flight Lombok-Perth yang dilayani oleh maskapai AirAsia.

Sebagai 5 Kawasan Super Prioritas Pariwisata Indonesia, melalui Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, NTB diyakini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Apalagi kawasan ini akan menjadi venue perhelatan MotoGP 2021. Untuk mendukung event itu, pemerintah pusat akan memperluas Bandara Lombok Internasional Airport (LIA), pembangunan jalan bypass dari Bandara ke KEK Mandalika. Ini diharapkan akan menunjang pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar, Ni Wayan Giri Adnyani menyatakan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat diintegrasikan dalam tiga sasaran utama, yaitu kualitas sumber daya lingkungan (alam dan budaya), kualitas hidup masyarakat setempat (sosial ekonomi), serta kualitas pengalaman berwisata (wisatawan).

‘’Harus diingat pula pemberdayaan masyarakat atau komunitas lokal merupakan paradigma yang sangat penting. Khususnya dalam kerangka pengembangan dan atau pengelolaan budaya dan pariwisata,’’ katanya.

Selanjutnya Menteri Pariwisata, Arief Yahya menuturkan bahwa masyarakat menjadi pelaku kegiatan wisata yang memiliki pengalaman turun menurun baik dalam hal pengelolaan sumber daya alam, budaya maupun aktifitas ekonomi. Ini harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengelola secara berkelanjutan karena menyangkut kepentingan hidup masyarakat setempat. ‘’Semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,’’ katanya.(Sid/dra)

Kirim Komentar

Leave a Reply