Setahun, Puluhan Madrasah Baru Menjamur di Lotim

Kepala Kemenag Lotim, H Azharuddin (kanan) dan Kasi Penmad, H Zainul Arqam.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Mendirikan madrasah gampang, tapi mengelolanya tidak semudah mendirikan. Itulah penggalan pernyataan yang disampaikan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Lombok Timur, H Azharuddin didampingi Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad), H Zainul Arqam kepada wartawan, di ruang kerjanya, Rabu (4/9).

Pernyataan itu disampaikan Kepala Kemenag sebagai gambaran banyaknya jumlah madrasah baru yang bermunculan di Lombok Timur. “Setiap tahun puluhan usulan permintaan izin mendirikan Madrasah,” kata Kasi Penmad, Zainul Arqam.

Disebutkan, dalam tahun 2019 ini, sebanyak 25 permohonan rekomendasi yang diproses oleh pihak Kementerian Agama Kabupaten Lotim. Melalui proses verifikasi yang objektif dan ketat, hanya 18 yang direkomendasikan ke Kanwil Kemenag Provinsi NTB untuk diterbitkan izin. Sedangkan 7 di antaranya dinyatakan tidak layak sehingga tidak diajukan rekomendasinya.

Menurut Kemenag, yang 18 usulan tersebut telah dikeluarkan izinnya oleh pihak Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB. Dengan demikian, jumlah madrasah yang beroperasi di Kabupaten Lombok Timur hingga 2019 ini berjumlah 798 buah madrasah dari tingkat Raudatul Athfal (RA) hingga tingkat Madrasah Aliyah (MA).

Berdasarkan pantauan pihak Kemenag Lotim, dari jumlah madrasah yang ada, tidak semua bisa berjalan sehat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Fenomena ini terjadi menurut Kepala Kemenag maupun Kasi Penmad, lebih disebabkan oleh faktor pendanaan maupun volume siswa. Terkadang ada madrasah yang mengelola siswa dalam 1 kelas kurang dari 10 orang. Tentu secara kuantitas dikategorikan rendah dan pasti berimplikasi terhadap kualitas. Selain itu juga, madrasah yang rendah kuantitasnya harus dihadapkan pada persaingan dengan sekolah negeri maupun sekolah umum lainnya.

Menjamurnya kemunculan madrasah-madrasah baru terutama di pelosok pedesaan menurut Kepala Kemenag Lotim, banyak disebabkan oleh motivasi yang masih dinilai keliru. Terkadang di suatu desa tertentu banyak bermunculan para sarjana yang ingin mempertahankan status sosial atas keserjanaannya, ramai-ramai bikin madrasah dengan harapan akan dapat bantuan dana BOS.

Dan ada pula yang termotivasi untuk penampilan di desa sebagai tempat aktifitas berpenampilan setiap hari terlihat stil berpakaian dinas memakai celana panjang hingga berkemeja atau berbaju batik demi mempertahankan gengsi sosial.

Untuk itu, Kepala Kemenag dan Kasi Penmad mengingatkan masyarakat di daerah ini, agar dipertimbangkan dengan matang dari segala segi baik letak, potensi, dan yang tidak kalah penting sejauh mana daya dukung masyarakat setempat. “Boleh-boleh saja berobsesi untuk mendirikan madrasah, namun perlu diingat bahwa tidak semudah yang dibayangkan dalam hal pengelolaannya,” katanya.

Ditanya soal jumlah guru madrasah swasta se-Lombok Timur, ia menyebutkan berjumlah sebanyak 11 ribu lebih. Dari jumlah tersebut, baru 7 ribu yang bisa masuk Simpatika, sisanya sekitar 4 ribu lebih belum masuk Simpatika.(Kml)

Kirim Komentar

Leave a Reply