Terkait Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV, Sekda Lotim Ngaku Pasrah pada Sistem

Oleh: Lalu M Kamil AB |

LOTIM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Satu tahun pertama perjalanan kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur (Lotim), HM Sukiman-H Rumaksi (SUKMA) tercatat sudah tiga kali Kepala Badan Kepegawaian Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Lombok Timur, HM Isa mendapat kehormatan sebagai penerima mandat bupati untuk melantik pejabat eselon III dan IV di lingkup Pemkab Lotim.

Sekda Lotim, H Rochman Farly.

Setelah beberapa bulan lalu Kepala BKPSDM atas nama Bupati Lotim melantik personel lingkup Pemkab Lotim yang mengisi jabatan kepala seksi (Kasi), pengawas dan kasek, Senin (14/10), HM Isa kembali mendapat kepercayaan dari orang nomor satu di Lotim itu untuk melakukan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan sebanyak 70 orang pejabat eselon III dan IV di Aula Loka Latihan Kerja (LLK) Selong.

Meskipun menjadi hak prerogatif Bupati menunjuk salah satu pejabat untuk mewakilinya melantik, namun memancing reaksi munculnya tanda tanya dari sejumlah kalangan dan ASN. Kenapa harus Kepala BKPSDM yang setingkat dengan kepala dinas yang diberi mandate. Padahal, ada Wakil Bupati selaku orang nomor dua atau ada Sekda. Dan dikabarkan pula, bahwa Wabup dan Sekda sedang berada dalam daerah (tidak sedang ke luar daerah).

‘’Wabup dan Sekda Lotim ada, tapi kok kenapa Kepala BKPSDM yang diberikan perintah atau disposisi oleh Bupati untuk melantik pejabat di Lotim dan ini yang ketiga kalinya Kepala BKPSDM melantik pejabat,’’ kata sejumlah pejabat dan Aparatur Sipil Negera (ASN) di Lotim yang berhasil dihimpun Lomboktoday.co.id, di Selong, Selasa (15/10).

‎Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah Lombok Timur (Sekda Lotim), H Rochman Farly yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/10) menanggapi dengan nada dan sikap dingin. ‘’Bagus itu, untuk melatih psikologis kepala dinas atau badan dalam melantik orang,’’ kata Sekda Lotim, H Rochman Farly dengan nada enjoy.

Rochman Farly yang juga alumni SMA Muhammadiyah Mataram ini mengaku mengetahui ada pelantikan secara informal yakni hanya mendengar dari pembicaraan beberapa pejabat. Namun terkait pendelegasian bukan kepada Wabup atau dirinya selaku Sekda, Rochman Farly menyebut bahwa Bupatilah yang paling tahu kesibukan Wabup atau Sekda. ‘’Tak masalah Bupati mendelegasikan kepada siapa yang beliau kehendaki. Beliau mungkin juga melihat kesibukan Wabup atau Sekda,’’ ujarnya.

Ditanya apakah ada perasaan tersinggung tidak mendapat pendelegasian? Rochman Farly menyebut, dalam jabatan sebagai Sekda, rasa tersinggung itu harus dibuang jauh karena masuk pada sistem. ‘’Ya, saya kan Sekda yang masuk dalam sistem, tersinggung itu tidak boleh ada, kita biarkan semua berjalan dalam sistem yang ada sesuai mekanisme,’’ katanya seraya menyebut dirinya sedang tidak berada di luar daerah.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply