Hingga 30 September 2019, Jumlah Pasien Pasung di NTB Capai 56 Kasus

Suasana workshop peningkatan Tim Pelaksanaan-Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM), di Hotel Grand Legi Mataram, Selasa (22/10).
Suasana workshop peningkatan Tim Pelaksanaan-Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM), di Hotel Grand Legi Mataram, Selasa (22/10).

Oleh: Lalu Mandra Setiawan |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma (RSJMS) Provinsi NTB mendata jumlah pasien pasung hasil penjangkauan berdasarkan kabupaten/kota hingga 30 September 2019 mencapai sebanyak 56 kasus pasung. Jumlah tersebut meningkat dibanding kasus pasung yang terjadi pada tahun 2018 yang hanya sebanyak 20 kasus. Namun, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, mengalami penurunan yang sangat jauh. Mengingat kasus pasung yang terjadi pada tahun 2013 lalu pernah mencapai sebanyak 332 kasus. Karenanya, kasus pasung menjadi masalah kemanusia dan sosial yang harus diminimalisir. Sehingga Pemerintah terus berupaya menargetkan NTB bebas pasung ke depannya.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma (RSJMS) Provinsi NTB, dr Evy Kustini Somawijaya mengatakan, pihak RSJMS Provinsi NTB akan terus perkuat sosialisasi serta komunkasi antara tim psikiater atau melalui tim ACT RSJ dan kelompok swabantu di tiap Puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota se-NTB.

Sehingga, Sistem Rujukan Komunikatif Tiga Pilar (Sirukogalar) merupakan inovasi sistem yang mendukung perawatan primer dalam memberikan layanan kesehatan mental. Dalam hal ini, penanganan pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dengan harapan dapat menurunkan tindakan pasung. Sehingga mampu dirawat di berbagai layanan kesehatan melalui komsumsi obat secara rutin dan pastinya dapat diterima oleh keluarga dan masyarakat. Dengan tujuan ODGJ sehat berdaya produktif.

Sistem rujukan tiga pilar ini akan perkuat komunikasi antara RSJ, Puskesmas dan masyarakat, baik melalui kader kesehatan jiwa maupun langsung pada pasien dan keluarga menjadi tidak terputus. Sehingga terapi dapat terpantau dengan baik dan perkembangan pasien pasca pasung rawat dapat dipantau dengan baik. Dengan demikian, diharapkan angka kekambuhan kecil dan pasien lebih berdaya.

‘’Pengembangan sistem ini untuk memonitoring pengobatan pasien pasca rawat. Dengan demikian, pihak rumah sakit dapat mengontrol risiko kambuh atau dipasung lagi,’’ kata Direktur RSJMS NTB, dr Evy Kustini Somawijaya pada saat workshop peningkatan Tim Pelaksanaan-Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM), di Hotel Grand Legi Mataram, Selasa (22/10).

Selain itu, pihaknya juga akan semakin mengembangkan aplikasi inovasi ‘’Makpasol’’ yang membantu masyarakat atau petugas untuk lapor jika menemukan kasus pasung di tengah-tengah masyarakat. ‘’Manfaat Sirukogalar bagi petugas kesehatan. Mereka lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa dan rujukan pasien dapat dimonitor oleh puskesmas sampai rujuk balik dengan perawatan lanjutan di rumah,’’ ujarnya.

Sistem ini juga dapat dimanfaatkan untuk menurunkan masalah kesehatan jiwa secara lebih luas lagi. TP KJM kabupaten/kota menjadi wadah koordinatif utama dalam penyelesaian masalah kesehatan jiwa. Masalah kesehatan jiwa semakin luas dan beragam, pasung, ODGJ dan Tentamen Suicide (percobaan bunuh diri) menjadi masalah utama. Kunci utama untuk mencegah kekambuhan dan mendukung keberhasilan perawatan hingga pasien sehat, beradaya dan produktif adalah keberlanjutan pengobatan.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here