Pilkada 2020, M16 Prediksi Sebagian Besar Petahana Tumbang

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto.

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram memprediksi sebagian besar petahana akan tumbang pada Pilkada serentak 2020 tujuh kabupaten/kota di NTB. Dan sebagian lagi tidak bisa maju karena sudah dua kali menjabat yakni Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh; Bupati Lombok Tengah, HM Suhaili FT; dan Bupati Dompu, H Bambang M Yasin.

Sementara itu, Petahana Bupati dan Wakil Bupati KSB, H.W Musyafirin dan Fud Syaifuddin masih terlalu kuat dan digdaya untuk dikalahkan dalam Pilkada 2020, karena kepemimpinannya yang merakyat dan dicintai mayoritas masyarakat KSB.

Fenomena tanda-tanda akan bertumbangannya petahana di Pilkada 2020 sudah mulai nampak dari berbagai opini ataupun permasalahan yang muncul di ruang publik. ‘’Ini sinyelemen awal atau warning bahwa kepemimpinan para petahana di berbagai kabupaten/kota di NTB yang muncul berbagai permasalahan tidak lagi kokoh atau mulai rapuh secara politik,’’ kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Ahad (10/11).

Fenomena lain, kata lelaki yang akrab disapa Didu itu yakni makin banyaknya bermunculan calon-calon penantang petahana yang memiliki kapasitas dan performance yang baik untuk memimpin. Munculnya figur-figur baru ini harus dimaknai sebagai antitesa terhadap kepemimpinan petahana. ‘’Di Kota Mataram misalnya. Gelora perubahan yang berembus makin menguat menginginkan kepemimpinan yang baru di Pilkada 2020 mendatang,’’ ujarnya.

Maka tidak heran, gelaran Pilkada Kota Mataram akan menjadi ajang pertarungan prestise dan gengsi politik antara petahana melawan rivalnya yang rata-rata pendatang baru. ‘’Pilkada Kota Mataram 2020 akan berlangsung sengit dan ketat karena figur penantang petahana tidak bisa dipandang remeh. Apalagi gaung perubahan mulai menggema di mana-mana,’’ katanya.

Selanjutnya Didu menambahkan kehendak perubahan yang digelorakan masyarakat di berbagai wilayah di NTB, haruslah diterjemahkan sebagai keinginan rakyat ada perbaikan di semua sektor kehidupan. ‘’Ini faktor alamiah saja, rakyat ingin melihat pemimpin baru yang lebih baik dari era sebelumnya,’’ ujar mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB ini.

Mesin Partai

Sementara itu, dari perspektif partai politik, Pilkada serentak 2020 merupakan ajang pembuktian marwah dan legitimasi kekuatan mesin politik partai dalam mengagregasi dukungan pemilih. Didu mengulas partai politik dalam Pilkada serentak 2020 akan lebih banyak menampilkan figur dari kadernya sebagai bagian kaderisasi kepemimpinan. Ini penting bagian dari penjejangan karier politik di masing-masing parpol. ‘’Kalaupun nanti yang diusung bukan kadernya, tentu ada pertimbangan lain taktis dan strategis untuk memenangkannya,’’ katanya.

Selain itu, agenda politik lainnya untuk menyongsong dan pemantapan Pilgub 2023 agar tidak mengulangi kesalahan Pilgub 2018 lalu. Di mana, calon pengusung dari parpol besar bertumbangan di tangan Zul-Rohmi yang hanya diusung Partai Demokrat dan PKS. ‘’Berkaca pada Pileg 2019, maka kecendrungan konstruksi dan koalisi politik yang terjadi dalam Pilkada 2020, koalisi parpol peraih suara terbanyak diprediksi akan memenangkan semua Pilkada serentak 2020,’’ ujarnya.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply